Samarinda— Upaya memperkuat demokrasi di tingkat daerah kembali mendapat perhatian serius melalui kegiatan Penguatan Demokrasi Daerah yang bertemakan “Kepemimpinan yang Baik Bersumber Nilai Budaya Bangsa” yang digelar di Jalan Kamboja RT 35, Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Minggu (19/10/2025) malam.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Ketua II DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, bersama dua narasumber utama yakni Siti Fatimah dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), serta Ronal Stephen L, dengan Andi Misran sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Ananda Emira Moeis menegaskan bahwa kualitas demokrasi daerah tidak bisa dilepaskan dari karakter kepemimpinan yang berakar pada budaya bangsa.
“Kepemimpinan yang baik tidak lahir dari ambisi pribadi, tetapi dari pemahaman terhadap nilai-nilai budaya kita sendiri — seperti gotong royong, kejujuran, dan rasa tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi fondasi demokrasi di daerah,” ujar Ananda.
Menurutnya, pembangunan demokrasi di Kalimantan Timur harus beriringan dengan penguatan identitas lokal dan nilai moral masyarakat. Ia menilai, tanpa fondasi budaya, demokrasi hanya menjadi prosedur tanpa makna.
“Demokrasi bukan sekadar memilih, tapi juga mendidik masyarakat untuk bertanggung jawab dan berpikir kritis,” tambahnya.
Sementara itu, Siti Fatimah dari Kesbangpol menyoroti pentingnya pendidikan politik berbasis kearifan lokal dalam membangun kesadaran warga.
“Banyak konflik sosial dan politik muncul karena masyarakat kehilangan akar budayanya. Pendidikan politik seharusnya tidak hanya tentang sistem dan hak pilih, tetapi juga tentang etika bernegara dan nilai-nilai kearifan lokal yang memperkuat harmoni,” terang Siti Fatimah.
Dalam kesempatan yang sama, Ronal Stephen L memaparkan bahwa kepemimpinan daerah harus mampu menjadi jembatan antara nilai tradisi dan tantangan modernitas.
“Pemimpin di era digital harus punya dua kaki: satu berpijak pada nilai budaya, satu lagi melangkah ke arah inovasi. Tanpa keseimbangan itu, demokrasi bisa kehilangan arah,” ujarnya.
Sebagai moderator, Andi Misran menekankan bahwa forum semacam ini menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk merefleksikan kembali arah demokrasi yang sehat dan berkeadaban.
“Diskusi seperti ini bukan hanya rutinitas, tapi bagian dari pendidikan politik yang hidup — agar rakyat paham, kritis, dan tetap berakar pada nilai bangsa,” ungkapnya menutup diskusi.
Acara yang berlangsung hingga malam hari itu diakhiri dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama peserta. Diskusi berjalan hangat dan interaktif, menandai semangat masyarakat Palaran dalam memperkuat demokrasi berbasis nilai-nilai kebudayaan lokal.













