Samarinda-Target mengembalikan Partai Golkar sebagai kekuatan terbesar di DPRD Kota Samarinda menjadi salah satu agenda yang dibawa dr. Andi Satya Adi Saputra setelah dipercaya memimpin DPD Partai Golkar Samarinda periode 2026–2031.
Andi Satya ditetapkan sebagai ketua dalam Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Samarinda, Sabtu (8/8/2026). Ia menjadi kandidat tunggal setelah tidak ada bakal calon lain yang menyerahkan formulir pendaftaran sampai tahapan penjaringan berakhir.
Situasi tersebut sebelumnya telah dibahas dalam pramusda. Forum kemudian menyepakati mekanisme pengambilan keputusan terhadap pencalonan tunggal untuk diteruskan dalam Musda.
“Prosedur pendaftaran sudah kita buka dan ternyata yang mengembalikan formulir hanya satu calon. Akhirnya tadi malam sudah diputuskan melalui pramusda, karena hanya ada satu calon maka Musda ini harus mengambil keputusan,” ujar Andi Satya.
Selepas menerima mandat sebagai ketua, Andi Satya mulai memetakan pekerjaan politik Golkar Samarinda. Salah satu ukuran yang ingin dicapai adalah memperbaiki perolehan kursi pada Pemilu 2029.
Golkar saat ini mengantongi delapan kursi di DPRD Kota Samarinda. Jumlah itu menempatkannya tepat di bawah Gerindra yang menjadi pemilik kursi terbanyak dengan sembilan kursi. Selisih yang tipis tersebut membuat peluang Golkar merebut posisi teratas dinilai masih terbuka.
“Kita ingin membawa Golkar kembali ke pusat kejayaan DPRD Kota Samarinda. Semoga di Pemilu 2029 Golkar mendapatkan suara terbanyak. Syukur-syukur bisa menambah satu atau dua kursi,” katanya.
Namun, peningkatan perolehan suara tidak ingin hanya bertumpu pada kekuatan politik yang telah dimiliki. Andi Satya menempatkan pembaruan kader sebagai salah satu pekerjaan penting dalam kepemimpinannya.
Perubahan karakter pemilih menjadi alasan Golkar perlu melakukan penyesuaian. Menjelang 2029, kelompok Generasi Z dan milenial akan semakin dominan dalam komposisi pemilih. Kondisi tersebut membuat pendekatan politik kepada anak muda tidak lagi dapat ditempatkan sekadar sebagai agenda pelengkap.
Kepengurusan Golkar Samarinda ke depan karena itu akan memperluas ruang bagi generasi muda, baik melalui kegiatan sosialisasi maupun proses rekrutmen kader. Langkah tersebut diharapkan membuat regenerasi berjalan sekaligus memperkuat basis partai di kalangan pemilih muda.
Bagi Andi Satya, kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan bagi Golkar untuk mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan generasi dan perkembangan politik.
“Sebagai partai yang paling tua di Indonesia, Golkar harus bisa mengikuti perkembangan zaman supaya bisa diterima di era masa kini. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya,” pungkasnya.
Di luar agenda Pemilu 2029, kepemimpinan Andi Satya juga membuka kemungkinan dirinya masuk dalam kontestasi Pemilihan Wali Kota Samarinda mendatang.
Ia telah menyatakan kesediaan untuk maju apabila mendapat penugasan politik. Komitmen tersebut merupakan bagian dari pakta integritas yang disyaratkan DPD Partai Golkar kepada kandidat Ketua DPD Golkar Samarinda.
Meski demikian, Andi Satya belum menempatkan Pilwali sebagai agenda yang perlu dibicarakan terlalu jauh saat ini. Perjalanan politik menuju pemilihan berikutnya masih panjang, sementara konstelasi politik di Kalimantan Timur dapat terus berubah.
Karena itu, keputusan mengenai langkah menuju Pilwali akan melihat perkembangan politik ke depan. Untuk saat ini, konsolidasi organisasi, regenerasi kader, dan upaya membawa Golkar kembali menjadi pemenang di Samarinda menjadi pekerjaan yang lebih dahulu ingin dituntaskan.













