NTT,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kupang mencatat sebanyak 54 gempa susulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama dikutip dari kompas.com mengatakan gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2. Data tersebut merupakan hasil pemantauan BMKG hingga pukul 07.00 WIB.
Menurut Arief, aktivitas gempa tersebut berkaitan dengan keberadaan sesar aktif di sepanjang bagian utara Pulau Flores. Kondisi serupa juga pernah menjadi penyebab gempa besar di wilayah tersebut pada 1992.
“Memang ada sesar aktif yang berada di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi, penyebabnya adalah sesar di utara Pulau Flores,” ujar Arief saat dihubungi, Sabtu.
Dari puluhan gempa susulan yang tercatat, satu di antaranya dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. BMKG masih terus memantau perkembangan aktivitas seismik di kawasan tersebut.
Tsunami Terdeteksi di Sejumlah Wilayah
Selain gempa susulan, BMKG juga mendeteksi adanya perubahan muka air laut yang mengindikasikan tsunami di sejumlah wilayah.
Hasil pengukuran alat pemantau muka air laut dan tsunami gauge menunjukkan gelombang tsunami dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 0,14 meter hingga yang tertinggi 0,94 meter di Maurole.
Berikut hasil pengukuran tsunami yang diterima BMKG:
- Bakalang, Alor: 0,14 meter
- Baubau: 0,30 meter
- Bulukumba: 0,54 meter
- Dompu: 0,17 meter
- Flores Timur: 0,25 meter
- Kolaka: 0,23 meter
- Labuan Bajo: 0,36 meter
- Maurole: 0,94 meter
- Kemah Pantai: 0,38 meter
- Sikka: 0,19 meter
Arief menjelaskan, sebagian besar perubahan muka air laut tersebut tidak terlihat secara kasat mata. Namun, alat pemantau BMKG merekam adanya peningkatan permukaan air laut di sejumlah lokasi.
“Ini merupakan deteksi dari peralatan kami yang ada di sana. Memang ada peningkatan permukaan air laut setinggi yang tadi disebutkan,” jelasnya.
Warga Diminta Menjauhi Pantai
Meskipun sebagian besar ketinggian tsunami yang terdeteksi berada di bawah 0,5 meter, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati kawasan pesisir.
Masyarakat juga diminta menjauhi muara sungai maupun tepian sungai sebagai langkah antisipasi terhadap potensi perubahan kondisi air laut.
“Memang tidak berbahaya karena ini di bawah setengah meter, tetapi tetap saja masyarakat harus menjauhi pesisir dan muara sungai atau tepian sungai,” tegas Arief.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kondisi aman hanya karena gelombang tsunami tidak terlihat besar secara kasat mata. Pemantauan tetap dilakukan berdasarkan data peralatan di lapangan.
Data Korban dan Kerusakan Masih Menunggu BPBD
Sementara itu, hingga saat ini BMKG belum menerima informasi resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun kerusakan akibat gempa.
Arief mengatakan pihaknya baru menerima sejumlah laporan dari masyarakat. Untuk memastikan dampak gempa, BMKG masih menunggu laporan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Untuk informasi terkait dengan dampak, sebaiknya nanti informasi resmi dari BPBD,” pungkasnya.
BMKG bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan serta perkembangan kondisi di wilayah yang terdampak.
Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.













