SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat sinergi dengan dunia usaha untuk merealisasikan rehabilitasi Bandara Uyang Lahai sebagai salah satu infrastruktur strategis di wilayah pedalaman. Melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR), perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kecamatan Telen, Kombeng, dan Muara Wahau sepakat mengambil bagian dalam pembiayaan proyek tersebut.
Kesepakatan itu dicapai dalam rapat di Ruang Arau, Sekretariat Kabupaten, sebagai tindak lanjut arahan Bupati Ardiansyah Sulaiman yang mendorong pemanfaatan kolaborasi lintas sektor guna mempercepat pembangunan infrastruktur yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kutim, Masrianto Suriansyah, mengatakan hasil pembahasan menghasilkan kesepakatan awal mengenai pembagian kontribusi perusahaan secara proporsional. Tahap pertama pembangunan difokuskan pada peningkatan dan optimalisasi landasan pacu Bandara Uyang Lahai.
“Alhamdulillah, hasil rapat hari ini menghasilkan pembagian secara proporsional terhadap pembiayaan rehabilitasi Bandara Uyang Lahai. Yang menjadi prioritas adalah peningkatan dan optimalisasi runway,” katanya.
Menurut Masrianto, runway akan ditingkatkan menjadi sepanjang 800 meter dengan lebar 30 meter. Perbaikan tersebut diharapkan mampu meningkatkan standar keselamatan penerbangan sekaligus memperluas pelayanan transportasi udara menuju kawasan pedalaman Kutai Timur.
Pemerintah memperkirakan kebutuhan anggaran rehabilitasi mencapai sekitar Rp44,8 miliar. Nilai itu masih bersifat sementara karena akan melalui verifikasi lanjutan oleh tim engineering dari masing-masing perusahaan sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai.
“Hitungan sementara sekitar Rp44,8 miliar. Namun nanti masih akan ditinjau kembali oleh tim engineering dari masing-masing perusahaan,” ujar Masrianto.
Setelah proses pendataan perusahaan dan verifikasi teknis selesai, pemerintah akan menyusun tahapan pelaksanaan pembangunan. Apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, pekerjaan fisik landasan pacu diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan.
Dukungan terhadap rehabilitasi bandara juga datang dari kalangan dunia usaha. Perwakilan PT Dharma Satya Nusantara (DSN) Group, Yusron, menyatakan perusahaan siap memberikan kontribusi melalui program TJSL sesuai mekanisme yang berlaku karena keberadaan bandara akan memberikan manfaat bagi seluruh pihak.
“Kami menyambut baik rencana ini. Bandara bukan hanya kebutuhan pemerintah, tetapi juga kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Pada prinsipnya DSN siap berkontribusi sesuai mekanisme TJSL perusahaan dan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Miau Baru, Luis Langet. Ia berharap rehabilitasi Bandara Uyang Lahai segera terealisasi sehingga masyarakat memperoleh akses transportasi yang lebih baik, sekaligus mendukung pelayanan kesehatan, pendidikan, distribusi logistik, hingga pengembangan sektor ekonomi dan pariwisata di kawasan pedalaman.
“Kami tentu sangat bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah dan perusahaan yang mau bersama-sama memikirkan pembangunan bandara ini. Harapan kami, rencana ini bisa segera terwujud,” kata Luis.
Kolaborasi pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat tersebut menjadi gambaran bahwa pembangunan infrastruktur dapat dipercepat melalui semangat gotong royong. Jika rehabilitasi Bandara Uyang Lahai terlaksana sesuai rencana, keberadaannya diharapkan semakin memperkuat konektivitas wilayah Telen, Kombeng, Muara Wahau, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di pedalaman Kutai Timur.(ADV/prokopim/Kutim)













