SAMARINDA – DPRD Provinsi Kalimantan Timur menerima peserta Praktek Kerja Dalam Negeri (PKDN) Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Dikreg ke-36 Polda Kaltim, Selasa (15/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas strategi mitigasi dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah hukum Polda Kaltim.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan Kantor DPRD Kaltim itu dipimpin Wakil Ketua II DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis. Turut mendampingi Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim M. Darlis Pattalongi, serta Anggota Komisi IV Damayanti dan Sarkowi V. Zahry.

Sementara dari peserta didik Sespimti, hadir di antaranya Kombes Pol Muhammad Fachry, Kombes Pol Wiwin Firta, Kolonel CZI Indra Pujitriwanto, dan AKP Abdillah Dalimunthe.
PKDN mengangkat tema “Strategi Mitigasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Polda Kaltim”.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran peserta Sespimti untuk melihat secara langsung kondisi, persoalan, potensi kerawanan, serta pola penanganan karhutla di Kalimantan Timur.
Pembahasan tidak hanya diarahkan pada langkah penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi juga pada aspek pencegahan dan mitigasi. Di antaranya melalui penguatan deteksi dini, pemetaan kawasan rawan, patroli terpadu, peningkatan kesiapsiagaan, edukasi kepada masyarakat, penguatan koordinasi antarlembaga, hingga penegakan hukum terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Melalui kegiatan tersebut, peserta Sespimti juga melakukan penggalian informasi atau belanja masalah dari berbagai pemangku kepentingan. Informasi yang diperoleh di lapangan nantinya menjadi bahan kajian dalam menyusun rekomendasi strategis untuk memperkuat penanggulangan karhutla.
Wakil Ketua II DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis menegaskan, penanganan karhutla harus ditempatkan sebagai persoalan bersama yang membutuhkan strategi jangka panjang dan keterlibatan seluruh sektor.
Menurut Ananda, penanganan tidak boleh hanya mengandalkan tindakan pemadaman setelah api muncul. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas agar potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal.
“Penanganan karhutla harus kita lakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah terjadi. Pencegahan dan deteksi dini harus diperkuat, termasuk melalui sinergi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pihak terkait,” ujar Ananda.
Ia menilai, karakteristik wilayah Kalimantan Timur yang memiliki kawasan hutan dan lahan yang luas membuat langkah mitigasi harus dilakukan secara terencana. Pemetaan wilayah rawan, kesiapan personel dan sarana prasarana, serta sistem informasi yang mampu memberikan peringatan dini dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman karhutla.
“Kalau kita hanya bergerak ketika api sudah membesar, tentu penanganannya akan jauh lebih sulit dan dampaknya juga lebih besar. Karena itu, kita harus membangun sistem yang membuat kita bisa mengetahui potensi kebakaran lebih awal dan bergerak sebelum kondisi menjadi lebih parah,” tegasnya.
Selain penguatan sistem deteksi dan respons, Ananda juga menekankan pentingnya pendekatan kepada masyarakat. Menurutnya, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat harus berjalan beriringan dengan pengawasan dan penegakan hukum.
“Edukasi masyarakat sangat penting. Kita tidak ingin masyarakat hanya diberi pemahaman setelah terjadi kebakaran. Kesadaran untuk menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran harus dibangun secara terus-menerus,” katanya.
Ananda juga menyambut baik pelaksanaan PKDN Sespimti di DPRD Kaltim. Ia berharap proses penggalian persoalan di daerah tersebut dapat menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan mampu memperkuat kebijakan penanggulangan karhutla, khususnya di Kalimantan Timur.
“Forum seperti ini penting karena kita bisa duduk bersama, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan mencari solusi yang lebih konkret. Harapannya, hasil dari PKDN ini tidak berhenti sebagai kajian, tetapi bisa menjadi rekomendasi yang memperkuat kebijakan dan sinergi penanganan karhutla ke depan,” pungkasnya.












