SAMARINDA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menggagas inovasi pendidikan kependudukan melalui program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Program ini akan diajarkan di sekolah dasar dan menengah pertama. Ada hadiah khusus dari Pemkab Kutim untuk sekolah-sekolah yang sukses melaksanakan program SSK.
“Secara berkala kita akan pantau pelaksanaan SSK di sekolah-sekolah. Sekolah yang berhasil menerapkan program ini akan menerima penghargaan khusus pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Diharapkan ini dapat memotivasi sekolah untuk menjadikan SSK sebagai salah satu keunggulan dalam pembelajaran,” papar Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim Achmad Junaidi di acara Bimbingan Teknis (Bimtek) program SSK di Hotel Aston Samarinda.
Acara yang berlangsung dua hari ini diikuti sejumlah pejabat, kepala sekolah, dan guru dari tujuh sekolah di Kecamatan Sangatta Utara. Bimtek bertujuan memperkuat pemahaman pengelola SSK dalam menerapkan pendidikan kependudukan di tingkat sekolah dasar dan menengah pertama.
Program ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Dinas Pendidikan Kota Samarinda, BKKBN Kalimantan Timur (Kaltim), dan Kepala SMPN 35 Samarinda. Mereka berbagi pengalaman serta panduan dalam pelaksanaan SSK. Melalui program ini, Kutim diharapkan bisa jadi contoh bagi wilayah lain dalam menerapkan pendidikan kependudukan sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
Salah satu fokus utama dalam Bimtek adalah bagaimana guru dapat mengintegrasikan materi kependudukan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Harapannya, pengayaan materi kependudukan tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tapi juga menanamkan nilai-nilai penting tentang perencanaan keluarga sejak dini.
Dalam sambutannya mewakili Pjs Bupati Kutim H M Agus Hari Kesuma, Junaidi menjamin penerapan SSK tidak akan mengganggu kurikulum utama yang sudah ditetapkan. Sebaliknya, program ini akan menambah dimensi pengayaan yang memperluas wawasan siswa tentang kependudukan dan keluarga berencana.
“Materi SSK hanya bersifat pengayaan sehingga siswa mendapatkan pengetahuan tambahan tentang kependudukan dan keluarga berencana,” papar Junaidi di hadapan peserta Bimtek.
Dengan menghadirkan materi kependudukan sebagai tambahan, Junaidi berharap proses belajar mengajar jadi lebih menarik dan menginspirasi para siswa, khususnya dalam memahami isu-isu terkait kependudukan yang relevan dengan kehidupan mereka. Junaidi juga mengajak para peserta Bimtek agar dapat memberikan pemahaman yang mendalam kepada para siswa mengenai pentingnya pengetahuan kependudukan dan keluarga berencana.
“Pastikan anak-anak kita mendapatkan pengetahuan yang memadai tentang pentingnya perencanaan keluarga,” pesan Junaidi di hadapan para guru dan peserta Bimtek lainnya.
Selain mendengar paparan dari para pemateri di Hotel Aston, peserta Bimtek diajak melakukan kunjungan ke SMPN 35 Samarinda, yang lebih dulu sukses menerapkan program SSK. Kunjungan ini memungkinkan para peserta mempelajari langsung fasilitas dan metode pembelajaran yang diterapkan di SMPN 35 untuk diadaptasi di sekolah masing-masing sesuai kebutuhan.
Sementara itu, Kepala Bidang Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana DPPKB Kutim Khasanah menjelaskan ada banyak program menarik di SSK. Salah satunya “Pojok Kependudukan”. Pojok ini berupa ruang khusus di sekolah yang dirancang untuk memfasilitasi siswa dalam mempelajari berbagai isu kependudukan dan keluarga berencana. “Pojok Kependudukan” membuat para siswa lebih mudah memahami materi yang ada di SSK. (*)













