Samarinda – Bertambahnya tingkat kepadatan penduduk di Kota Balikpapan menjadi perhatian sejumlah pihak. Kondisi ini dinilai berkaitan erat dengan ketersediaan lahan yang semakin menyempit seiring meningkatnya arus urbanisasi ke kota penyangga Ibu Kota Nusantara tersebut.
Ketua Komisi III DPRD Kalimantan Timur, Abdulloh, mengatakan jumlah penduduk Balikpapan mengalami lonjakan signifikan, terutama pada siang hari ketika aktivitas ekonomi berlangsung.
“Jumlah penduduk Balikpapan itu 760 ribu jiwa kalau di malam hari, kalau siang hari lebih dari 1 juta penduduk. Kenapa? Seluruh pendatang dari dalam daerah maupun luar daerah masuk beroperasional di Kota Balikpapan,” ujarnya.
Abdulloh juga menanggapi keluhan sebagian warga lokal yang menilai ketersediaan lahan di Balikpapan semakin terbatas. Menurutnya, secara umum lahan masih tersedia, meskipun penyebarannya tidak merata.
“Sebenarnya terkait ketersediaan lahan relatif masih ada. Di daerah Manggar itu relatif masih luas, malah dijual murah di daerah situ. Jadi masih banyak lahan di sana,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga menyinggung sejumlah pembangunan infrastruktur di Balikpapan yang hingga kini belum terealisasi. Salah satunya proyek pembangunan jembatan di kawasan Rapak yang masih tertunda akibat keterbatasan anggaran.
Menurut Abdulloh, secara prinsip rencana pembangunan tersebut sebenarnya telah mendapat persetujuan dari pemerintah daerah. Namun prosesnya terhambat ketika memasuki tahap penganggaran.
“Lah duitnya gak ada, kena pangkas semua. Sebenarnya gubernur sudah oke, sudah siap dilaksanakan untuk pembangunan. Begitu di ujung kita masuk ke tahap penganggaran, ada kebijakan pemangkasan anggaran dari pusat sebesar Rp6,3 triliun pada tahun 2026 untuk Kaltim,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan proyek-proyek tersebut bukan dibatalkan, melainkan hanya mengalami penundaan hingga kondisi anggaran memungkinkan.
“Tapi bukan tidak akan dibangun, tapi bukan sekarang. Kemungkinan nanti tunggu anggaran turun lagi,” pungkasnya. (Mujahid)













