BENGALON – Sebuah langkah revolusioner dalam pertanian Kutai Timur resmi dimulai di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon. Bupati Kutim H. Ardiansyah Sulaiman menanam padi terapung sekaligus melepas ikan bensaian, menandai uji coba teknologi pertanian terpadu berbasis perairan pertama di daerah ini.
Metode ini menggunakan media apung berupa styrofoam yang dialasi pot tanah. Padi tumbuh di permukaan air, sementara ikan bensaian hidup di bawahnya. Sistem ini memungkinkan interaksi simbiosis antara tanaman dan ikan, meningkatkan efisiensi lahan basah yang sebelumnya kurang produktif.
“Bibit padi ditanam di media apung, dan ikan mendapatkan makanan dari akar-akar padi. Ini pertama di Kutim dan masih berupa uji coba. Semoga berhasil,” kata Bupati Ardiansyah penuh harap. Menurutnya, teknologi padi terapung bisa menjadi jawaban bagi daerah yang kekurangan lahan pertanian tetapi memiliki sumber air melimpah.
Kepala Desa Tepian Langsat, Zeky Hamzah, menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah agar program ini bisa berkembang menjadi sumber ekonomi alternatif berbasis pertanian dan perikanan terpadu.
Demplot ini juga menjadi contoh pertanian adaptif terhadap perubahan iklim. Bupati Ardiansyah berharap keberhasilan demplot akan memacu pengembangan teknologi serupa di desa lain, menjadikan Kutai Timur sebagai pelopor pertanian apung di Kalimantan Timur.
“Dari desa, inovasi bisa tumbuh. Dari desa pula, kemandirian pangan Kutim dimulai,” tutup Ardiansyah.
Sinergi antara pemerintah, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci untuk merealisasikan potensi pertanian lahan basah. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa melalui integrasi pertanian dan perikanan. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













