Samarinda — Wali Kota Samarinda, Andi Harun, membantah berbagai spekulasi politik yang menyebut dirinya akan maju pada kontestasi pemilihan kepala daerah tingkat provinsi pada 2030 mendatang.
Pernyataan itu disampaikan Andi Harun usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Samarinda Masa Persidangan II Tahun 2026 dengan agenda Nota Penjelasan dan Penyampaian Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Samarinda Tahun 2025, Kamis (25/6/2026), di Ruang Rapat Paripurna Lantai 2 DPRD Kota Samarinda.
Dalam wawancara dengan wartawan, Andi Harun menegaskan dirinya belum memikirkan agenda politik di luar jabatan yang saat ini diembannya sebagai wali kota.
“Saya sama sekali belum berpikir soal pilkada. Bagi saya, tidak etis atau kurang pantas di saat masih ada waktu yang begitu panjang sudah memikirkan tangga selanjutnya,” ujar Andi Harun.
Ia mengatakan, amanah masyarakat Samarinda saat ini menjadi fokus utamanya. Menurut dia, memikirkan jabatan politik lain ketika masa jabatan masih berjalan justru menunjukkan sikap yang tidak tepat.
“Fokus saja saya di kerjaan ini belum tentu saya bisa berhasil, apalagi sudah memikirkan yang lain. Itu serakah namanya,” katanya.
Andi Harun juga membantah isu yang menyebut dirinya akan maju di Kalimantan Utara. Ia menilai isu tersebut tidak rasional secara politik.
“Kalau saya mau maju, karuan maju di Kaltim. Berpolitik itu tidak mudah. Siapa yang mengenal saya di Kaltara?” ucapnya.
Menurut dia, berbagai spekulasi yang beredar sejauh ini belum pernah dibahas secara serius oleh dirinya. Meski mengaku banyak pihak mengajak berbicara soal peluang politik ke depan, Andi Harun menegaskan dirinya memilih tetap fokus bekerja.
“Bahwa ada orang yang ngajak saya, ya saya harus nilai semua itu kan. Ada yang basa-basi, ada yang setengah serius, ada juga kepentingan di baliknya,” katanya.
Ia juga menyinggung tingginya biaya politik dalam kontestasi pemilihan kepala daerah tingkat provinsi. Menurut Andi Harun, politik berbiaya mahal berpotensi melahirkan praktik korupsi.
“Kalau ada orang maju dengan memakai biaya berlebih-lebihan, ujung-ujungnya korupsi. Bohong kalau dia tidak memikirkan bagaimana mengembalikan modal,” ujarnya.
Selain itu, ia mengaku faktor keluarga juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah politik ke depan. Andi Harun mengatakan keluarganya telah meminta dirinya mengurangi aktivitas politik setelah lebih dari 30 tahun berada di ruang publik.
“Anak saya sudah meminta saya, ‘Udah cukup, Pah. Udah cukup. Bapak udah lebih dari 30 tahun bersama publik. Kapan waktunya bersama kami?’” tuturnya.
Di akhir wawancara, Andi Harun kembali menegaskan dirinya belum memiliki rencana politik lain di luar jabatan sebagai Wali Kota Samarinda.
“Saya enggak seperti yang kau bayangkan punya keserakahan, belum selesai tugas saya wali kota sudah memikirkan yang lain,” tutupnya. (Iqbal Al-Fiqri)













