Samarinda — Wali Kota Samarinda, Andi Harun, membantah isu yang menyebut dirinya akan berpindah partai politik di tengah dinamika politik menjelang Pilkada 2031.
Pernyataan itu disampaikan Andi Harun usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Samarinda Masa Persidangan II Tahun 2026 dengan agenda Nota Penjelasan dan Penyampaian Raperda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Samarinda Tahun 2025, Kamis (25/6/2026), di Ruang Rapat Paripurna Lantai 2 DPRD Kota Samarinda.
Isu tersebut mencuat lantaran Andi Harun dinilai jarang terlihat dalam kegiatan internal Partai Gerindra di tingkat provinsi. Namun, ia menegaskan ketidakhadirannya bukan karena persoalan politik internal, melainkan karena tidak menerima undangan.
“Saya tidak pernah diundang. Satu-satunya alasan saya tidak pernah hadir di kegiatan DPD partai di tingkat provinsi, itu karena saya enggak diundang,” ujar Andi Harun.
Meski demikian, ia mengatakan tetap aktif menghadiri agenda yang digelar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, termasuk kegiatan konsolidasi kepala daerah dan kader partai.
“Tapi DPP setiap ada kegiatan baik di Hambalang maupun di Jakarta, saya selalu diundang, makanya saya hadir kalau acaranya DPP,” katanya.
Andi Harun menegaskan dirinya tidak memiliki alasan untuk meninggalkan Partai Gerindra. Menurut dia, dukungan penuh Gerindra menjadi salah satu faktor penting yang mengantarkannya menjadi Wali Kota Samarinda.
“Saya ini sadar saya maju sebagai wali kota itu atas dukungan penuh Partai Gerindra. Apa alasan saya untuk pindah partai? Sama sekali tidak ada,” tegasnya.
Ia menduga isu perpindahan partai bisa saja berasal dari pihak-pihak yang tidak menyukai dirinya, termasuk kemungkinan dari internal partai sendiri. Namun, Andi Harun mengaku tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut.
“Ada orang yang tidak senang sama saya, apakah itu di luar atau lebih-lebih di dalam khususnya, itu bukan masalah saya, itu masalah dia,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Andi Harun juga menyinggung praktik politik yang menurutnya sering kali menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Ia mengaitkannya dengan pemikiran politik Niccolò Machiavelli.
“Banyak orang berpolitik dengan pengalaman yang belum cukup, bahwa kalau ingin maju kita harus menyingkirkan yang lain. Itu yang disebut dalam teori politiknya Machiavelli, menghalalkan segala macam cara,” katanya.
Menurut dia, praktik politik semacam itu justru bertentangan dengan nilai-nilai etika dan sikap politik yang sehat.
“Selain tidak gentle, selain itu licik, jahat, juga kita dosa kepada Tuhan karena dengan berbagai cara kita ingin menjatuhkan pihak lain,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Andi Harun meminta publik tidak terlalu berspekulasi terhadap isu-isu politik yang berkembang terkait dirinya.
“Men, santai saja,” tutupnya. (Iqbal Al-Fiqri)













