Kaltim,- Sebanyak 269 titik di Kalimantan Timur (Kaltim) masih belum terjangkau akses internet meski tingkat konektivitas di wilayah tersebut telah mencapai 95,5 persen.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, keberadaan titik blank spot tersebut menjadi salah satu prioritas yang perlu segera ditangani.
Pemerintah mendorong sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), serta operator telekomunikasi untuk memperluas akses internet.
“Dengan sinergi yang kita lakukan, kita bisa saling menguatkan dan mewujudkan akses di beberapa titik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Nezar dalam keterangan resmi yang dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jumat (7/8/2026).
Menurut Nezar, pemerintah kini mengubah pendekatan dalam pembangunan konektivitas nasional. Pemerataan akses internet tidak lagi hanya mengandalkan pembangunan base transceiver station (BTS), tetapi memanfaatkan berbagai teknologi sesuai dengan karakteristik wilayah.
Teknologi yang digunakan mencakup BTS, jaringan fiber optik, satelit, hingga teknologi telekomunikasi pendukung lainnya. Pemilihan teknologi tersebut dilakukan berdasarkan pemetaan dan kondisi di masing-masing wilayah.
Nezar mengatakan, pendekatan tersebut penting karena kondisi geografis setiap daerah berbeda. Wilayah dengan medan yang sulit dijangkau BTS dapat dilayani menggunakan teknologi alternatif, seperti satelit.
“Kita coba petakan mana yang prioritas. Yang mungkin tidak bisa ditembus dengan BTS, bisa diarahkan lewat satelit atau moda jaringan telekomunikasi yang lain,” ujarnya.
Di Kaltim, pemerintah daerah juga menerapkan pendekatan dengan mengombinasikan sejumlah teknologi untuk memperluas akses internet hingga ke wilayah perdesaan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim Ririn Sari Dewi mengatakan, pemerintah provinsi memanfaatkan kombinasi jaringan fiber optik, Very Small Aperture Terminal (VSAT), hingga satelit untuk menyesuaikan kebutuhan di masing-masing wilayah.
“Kami memilih beberapa paduan teknologi yang paling sesuai sehingga efektif pada saat kita deliver layanan akses internet di desa,” ujarnya.
Pemerintah berharap kolaborasi dan pemanfaatan beragam teknologi tersebut dapat mempercepat penanganan titik blank spot sekaligus memperluas pemerataan konektivitas digital di Kaltim













