SAMARINDA — DPRD Kota Samarinda menyoroti pentingnya kepastian informasi bagi pasien yang harus menunggu ruang perawatan. Rumah sakit diminta tidak membiarkan pasien dan keluarga menunggu berjam-jam tanpa penjelasan mengenai kondisi kamar maupun perkiraan waktu pelayanan.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, mengatakan keterbatasan kapasitas ruang perawatan seharusnya tidak menjadi alasan bagi rumah sakit untuk menghentikan komunikasi dengan pasien dan keluarga.
Menurutnya, ketika seluruh kamar dalam kondisi penuh, petugas tetap harus memberikan informasi secara terbuka mengenai situasi yang dihadapi rumah sakit serta langkah yang sedang dilakukan untuk menangani pasien.
“Harusnya diberi penjelasan, Bapak, ini kemungkinan nunggunya sekian. Pihak rumah sakit menjelaskan dulu,” ujar Anhar, Rabu (12/8/2026).
Ia menilai kepastian informasi penting karena pasien berada dalam kondisi membutuhkan pelayanan sekaligus keputusan yang cepat. Tanpa penjelasan yang memadai, keluarga akan kesulitan menentukan langkah berikutnya.
Anhar menanggapi kasus pelayanan kesehatan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam informasi yang beredar, seorang pasien disebut harus menunggu sekitar delapan jam untuk memperoleh ruang perawatan dan kemudian dikabarkan meninggal dunia.
Meski belum mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya pasien tersebut, Anhar menilai kasus itu tetap perlu menjadi bahan evaluasi bagi fasilitas kesehatan.
“Jangan sampai orang didiamkan tapi enggak ada kejelasan, sekian jam. Ini yang akhirnya orang bingung mau melapor ke mana,” tuturnya.
Menurutnya, rumah sakit perlu memiliki prosedur yang jelas bagi pasien ketika kapasitas ruang perawatan sedang penuh. Informasi mengenai kondisi kamar, estimasi waktu tunggu, hingga pilihan pelayanan lain harus disampaikan kepada keluarga.
Dengan informasi tersebut, pasien dan keluarga dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang sebenarnya, termasuk apabila perlu mempertimbangkan fasilitas kesehatan lain.
Anhar juga meminta pemerintah daerah mengevaluasi mekanisme pelayanan pasien di rumah sakit. Evaluasi, kata dia, tidak hanya menyangkut ketersediaan tempat tidur, tetapi juga memastikan komunikasi antara petugas dengan pasien berjalan baik.
“Kalau memang ruangnya penuh, sampaikan penuh. Kalau masih harus menunggu, sampaikan berapa lama perkiraannya,” tegasnya.
Ia berharap pelayanan kesehatan di Samarinda mengedepankan keterbukaan informasi sehingga masyarakat tidak merasa diabaikan ketika menghadapi keterbatasan fasilitas. (Adv)
*













