Kutai Timur – Ketua Bidang Komunikasi dan Media Sosial Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP PA GMNI), Jan Prince Permata, menegaskan pentingnya persatuan ideologi dan pengabdian nyata kepada rakyat sebagai landasan perjuangan alumni GMNI di Kalimantan Timur.
Pesan tersebut disampaikan Jan pada Konferensi Daerah (Konferda) III PA GMNI Kalimantan Timur di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Jumat (16/10/2026).
Jan mengatakan, PA GMNI bukan sekadar wadah berhimpunnya mantan aktivis GMNI, melainkan rumah besar perjuangan untuk menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai nasionalisme, Marhaenisme, serta cita-cita keadilan sosial yang diwariskan Bung Karno.
Menurutnya, perbedaan profesi, jabatan, pandangan, hingga pilihan politik tidak boleh menghilangkan tanggung jawab bersama alumni GMNI untuk mengabdi kepada rakyat, bangsa, dan negara.
“Sebagai alumni GMNI, kita dipersatukan oleh satu tanggung jawab sejarah: terus mengabdi kepada rakyat, bangsa, dan negara,” kata Jan.
Ia menjelaskan, tema Konferda III PA GMNI Kaltim, “Bersatu dalam Ideologi, Bergerak dalam Pengabdian”, harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jan menilai, kesetiaan terhadap Pancasila, ajaran Bung Karno, dan cita-cita Marhaenisme tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan atau slogan.
Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam kebijakan publik, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kerakyatan, serta keberpihakan kepada kelompok masyarakat yang masih menghadapi kesulitan hidup.
Ia secara khusus menyoroti pentingnya keberpihakan kepada petani, nelayan, buruh, pekerja informal, pelaku usaha kecil, dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada kerja keras sehari-hari.
“Pengabdian itu tidak boleh berhenti pada slogan, apalagi sekadar romantisme perjuangan masa mahasiswa,” ujarnya.
Kawal Pembangunan Kaltim
Jan juga menyoroti posisi strategis Kalimantan Timur sebagai wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan menjadi bagian penting dari transformasi pembangunan nasional melalui kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurutnya, pembangunan daerah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal, bukan hanya ditandai dengan pembangunan infrastruktur, gedung megah, dan pertumbuhan investasi.
Ia menekankan bahwa masyarakat Kalimantan Timur perlu memperoleh kesempatan yang adil dalam bidang pendidikan, pekerjaan, kegiatan ekonomi, serta pengelolaan sumber daya alam.
“Kekayaan daerah harus menjadi sumber kesejahteraan rakyat, bukan justru meninggalkan kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan,” tegasnya.
Untuk itu, Jan berharap PA GMNI Kaltim dapat berkontribusi melalui gagasan, pemikiran, dan tindakan nyata dalam membantu pemerintah daerah menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.
Ia mendorong organisasi alumni tersebut menjadi mitra kritis sekaligus konstruktif bagi pemerintah, dengan mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat, memberikan masukan terhadap kebijakan yang perlu diperbaiki, serta tetap menjaga independensi dan integritas organisasi.
“PA GMNI harus hadir sebagai kekuatan intelektual, moral, dan sosial yang ikut memastikan pembangunan Kalimantan Timur berjalan secara inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan,” katanya.
Konferda Bukan Sekadar Pergantian Kepemimpinan
Lebih lanjut, Jan menegaskan Konferda III PA GMNI Kaltim merupakan momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi, mempererat persaudaraan antarkader dan alumni, serta merumuskan arah perjuangan ke depan.
Ia mengingatkan bahwa pemilihan kepemimpinan bukan satu-satunya tujuan konferensi. Forum tersebut juga harus menghasilkan program kerja yang konkret dan menjawab kebutuhan masyarakat.
“Saya berharap seluruh peserta mengedepankan musyawarah, persatuan, dan semangat gotong royong. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah sesuatu yang wajar. Tetapi jangan sampai perbedaan itu melemahkan persaudaraan kita sebagai sesama alumni GMNI,” ujarnya.
Jan mengajak seluruh peserta menjadikan Konferda sebagai ruang pertukaran gagasan dan perumusan agenda pengabdian, bukan sekadar arena perebutan kepemimpinan.
Ia juga menekankan tanggung jawab alumni dalam mendukung proses kaderisasi GMNI. Menurutnya, para kader muda perlu terus didorong untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan pemikiran kritis, dan membangun keberpihakan kepada rakyat.
Jan berharap Konferda III menghasilkan keputusan terbaik, melahirkan kepemimpinan yang amanah, serta memperkuat kontribusi PA GMNI bagi pembangunan Kalimantan Timur dan Indonesia.
Dengan demikian, semangat persatuan ideologi dan pengabdian yang diusung dalam Konferda diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan, tetapi menjadi arah kerja organisasi dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.












