SAMARINDA – Tragedi meninggalnya seorang balita setelah terjatuh dari lantai lima sebuah hotel di Samarinda memicu desakan evaluasi terhadap standar keamanan penginapan. Pemeriksaan diminta tidak hanya dilakukan di lokasi kejadian, tetapi mencakup seluruh hotel di kota tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 14 Oktober 2026. Insiden tersebut dinilai harus menjadi peringatan bagi pengelola hotel, terutama yang banyak menerima tamu bersama keluarga dan anak-anak.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia mengatakan kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama agar kecelakaan serupa tidak terulang.
“Saya turut berduka atas kejadian ini. Tentu ini menjadi perhatian kita bersama, terutama bagi orang tua agar selalu mengawasi anak-anaknya, apalagi ketika berada di lingkungan yang memiliki risiko membahayakan keselamatan mereka,” ujar Puji, Senin (26/10/2026).
Menurut dia, anak usia dini belum memiliki kemampuan untuk mengenali seluruh risiko di sekitarnya. Rasa ingin tahu dapat membuat mereka mendekati jendela, balkon, atau bagian bangunan lain tanpa memahami bahaya yang dihadapi.
Karena itu, pengawasan orang tua harus ditingkatkan ketika membawa anak ke bangunan bertingkat. Perhatian tidak boleh teralihkan, terutama saat kamar atau fasilitas hotel memiliki akses menuju area terbuka.
“Jangan sampai lengah karena kita tentu tidak ingin kejadian seperti ini terulang dan menimpa anak-anak lainnya,” katanya.
Meski demikian, Puji menegaskan keselamatan tamu tidak dapat hanya dibebankan kepada keluarga. Pengelola hotel mempunyai kewajiban memastikan setiap fasilitas dapat digunakan dengan aman oleh seluruh pengunjung.
Evaluasi perlu diarahkan pada bagian bangunan yang memiliki tingkat risiko tinggi. Balkon, jendela, pintu menuju area luar, pagar pembatas, dan akses lain di lantai atas harus diperiksa kembali.
Ia mendorong pintu menuju area berbahaya dilengkapi mekanisme yang dapat menutup secara otomatis. Pagar pembatas juga harus mampu mencegah anak keluar atau menjangkau sisi luar bangunan dengan mudah.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menemukan potensi bahaya sebelum menimbulkan kecelakaan. Pengelola tidak seharusnya menunggu munculnya insiden lain untuk memperbaiki fasilitas yang berisiko.
Penilaian keamanan juga perlu mempertimbangkan karakter tamu. Hotel yang kerap menjadi pilihan keluarga harus mempunyai perlindungan tambahan karena anak-anak membutuhkan standar keselamatan berbeda dari pengunjung dewasa.
“Keamanan area hotel, khususnya balkon dan tempat-tempat yang berisiko bagi anak, harus benar-benar diperhatikan agar keselamatan para tamu tetap terjaga,” ucap Puji.
Menurut dia, evaluasi menyeluruh menjadi penting untuk memastikan seluruh hotel memiliki langkah pencegahan yang memadai. Hasil pemeriksaan harus diikuti perbaikan apabila ditemukan akses terbuka, pembatas yang tidak aman, atau fasilitas lain yang berpotensi membahayakan pengunjung.
Puji berharap tragedi tersebut menjadi momentum untuk memperketat perhatian terhadap keselamatan tamu. Pengawasan keluarga dan perlindungan dari pengelola harus berjalan bersamaan agar hotel tetap menjadi tempat yang aman, termasuk bagi anak-anak. (Adv)












