Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menetapkan langkah panjang untuk memutus mata rantai stunting langsung dari hulunya. Alih-alih sekadar berfokus pada balita, strategi kesehatan masyarakat itu kini menitikberatkan pada kelompok remaja putri—sebuah investasi biologis demi menekan angka stunting hingga 19,38% pada 2029.
Melalui program ‘Aksi Bergizi’, siswi SMP dan SMA tak lagi sekadar dipandang sebagai anak usia sekolah, melainkan sebagai calon ibu di masa depan.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kutim, Mitha Ferdina, menyebut kelompok ini sebagai simpul krusial. Bekal pengetahuan gizi dan kesehatan reproduksi sejak dini diyakini akan menjadi fondasi kuat dalam membangun keluarga sehat.
“Kami berharap prevalensi stunting di Kutai Timur dapat turun signifikan hingga mencapai 19,38 persen pada tahun 2029,” ujar Mitha.
Program yang digagas Kementerian Kesehatan ini mendorong remaja untuk membangun kebiasaan baru: rutin mengonsumsi tablet tambah darah, menjaga pola makan seimbang, dan aktif berolahraga. Pemahaman tentang kesehatan reproduksi juga disisipkan agar generasi muda siap menyambut masa depan dengan kondisi tubuh yang prima.
Peta Jalan Menuju 2029
Ambisi Kutai Timur ini bukan tanpa kalkulasi. Tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, pemerintah telah merancang peta jalan penurunan stunting yang selaras dengan target Provinsi Kalimantan Timur.
Berawal dari prevalensi 26,9% pada 2024, angka tersebut ditargetkan terus menyusut setiap tahunnya—menjadi 25,35% (2025), dan secara bertahap merosot ke angka 19,38% pada ujung 2029. Evaluasinya akan dikawal ketat melalui dua instrumen utama: e-PPGBM (Pencatatan Gizi Berbasis Masyarakat) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
Namun, Aksi Bergizi hanyalah satu kepingan dari teka-teki besar pengentasan stunting di Kutim. Gerakan ini ditopang oleh kerja kolaboratif lintas sektor yang masif.
Di fasilitas kesehatan tingkat pertama, layanan posyandu dan puskesmas diperkuat lewat intervensi nyata. Mulai dari pemberian makanan tambahan, imunisasi rutin, edukasi pranikah, hingga kunjungan langsung dokter spesialis ke rumah balita bermasalah gizi. Bahkan, pemerintah setempat menggulirkan program minum susu dan makan buah gratis untuk mencegah munculnya kasus baru.
Rangkaian ikhtiar ini menegaskan satu pesan penting dari Kutai Timur: melawan stunting bukanlah pekerjaan parsial. Ia adalah kerja maraton yang menanamkan kesadaran bahwa kesehatan anak-anak generasi mendatang, sangat bergantung pada apa yang dikonsumsi para remajanya hari ini.(adv)













