SANGATTA – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bergerak mendobrak stigma tabu dan rasa takut yang kerap menghinggapi kaum perempuan untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya.
Melalui sosialisasi dan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA test) di Aula Dinkes Kutim. Organisasi ini menyasar kalangan ibu-ibu DWP Perangkat Daerah (PD) se-Kabupaten Kutim—kelompok yang dinilai masih minim tersentuh program penapisan reproduksi secara khusus.
Ketua DWP Dinkes Kutim, Nasra Ahzan Zainuddin, mengungkapkan bahwa keraguan perempuan dalam melakukan deteksi dini umumnya bersumber dari rasa malu serta bayangan menakutkan terhadap proses pemeriksaan.
“Kalau Dinas Kesehatan selama ini menyasar masyarakat umum, kali ini kami khususkan kepada ibu-ibu DWP SKPD. Harapan saya pemaparan ahli bisa membuka wawasan mereka. Selama ini mereka takut diperiksa, mudah-mudahan setelah dijelaskan langsung oleh ahlinya, rasa takut itu bisa dilawan,” kata Nasra di Sangatta.
Nasra menegaskan, kesehatan perempuan berbanding lurus dengan kesejahteraan keluarga. Sebagai fondasi utama rumah tangga, kondisi fisik seorang ibu harus menjadi prioritas.
Meluruskan Mitos dan Miskonsepsi Medis
Antusiasme peserta mengemuka dalam sesi diskusi interaktif yang membedah berbagai persoalan reproduksi, mulai dari siklus menstruasi, pap smear, hingga alat kontrasepsi. Edukasi langsung ini menjadi ruang aman bagi para peserta untuk memahami isu kesehatan yang selama ini jarang dibahas secara terbuka.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber medis dr. Sandri menekankan bahwa screening rutin wajib dilakukan minimal satu tahun sekali, baik saat tubuh merasakan gejala maupun tidak.
Ia juga meluruskan miskonsepsi yang sering beredar di tengah masyarakat, salah satunya anggapan bahwa perempuan yang telah menjalani prosedur steril tidak perlu lagi melakukan pap smear atau IVA test.
“Steril itu beda tempat dengan pap smear. Jadi, tetap wajib melakukan pemeriksaan,” tegas dr. Sandri.
Peningkatan kesadaran dan keaktifan perempuan dalam melakukan deteksi dini diharapkan menjadi langkah krusial untuk menekan angka kematian akibat kanker serviks di wilayah Kutai Timur.(adv)













