SAMARINDA — Penghasilan harian yang tidak menentu dan terbatasnya pilihan pekerjaan menjadi sisi yang disoroti Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, dalam persoalan parkir liar. Ia meminta pemerintah mengiringi penertiban dengan pembinaan serta kesempatan bekerja secara resmi bagi juru parkir.
Menurut Samri, penindakan hukum saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Praktik parkir liar berkaitan dengan kebutuhan ekonomi, sehingga penanganannya perlu mempertimbangkan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
“Memberantas total itu sulit. Yang bisa kita lakukan adalah membina mereka, lalu memberi kesempatan bekerja secara resmi agar tetap bisa mencari penghasilan,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
Ia menilai akses pekerjaan resmi di sektor perparkiran dapat memberikan kepastian pendapatan, meskipun nilainya tidak besar. Dengan penghasilan yang lebih teratur, ketergantungan juru parkir pada pemasukan harian diharapkan berkurang.
“Kalau mereka sudah punya gaji tetap, mereka tidak lagi bergantung pada pendapatan harian yang tidak menentu,” jelasnya.
Menurut Samri, pendekatan tersebut juga dapat membantu menekan kemunculan titik parkir liar baru. Karena itu, penataan perlu mencakup orang-orang yang selama ini menggantungkan penghasilan dari kegiatan tersebut.
Ia mengingatkan pemerintah agar memahami kondisi sosial dan ekonomi juru parkir sebelum mengambil tindakan tegas. Samri mengkhawatirkan hilangnya penghasilan tanpa alternatif pekerjaan dapat menimbulkan persoalan sosial lain.
“Kalau langsung diberangus tanpa solusi, mereka bisa mencari cara lain yang justru melanggar hukum,” katanya.
Samri menyebut banyak orang menjalani pekerjaan sebagai juru parkir liar karena keterbatasan pilihan. Ia pun mendorong program pemberdayaan yang membuka kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pekerjaan lebih layak.
Selain pembinaan dalam pengelolaan parkir resmi, dukungan dapat berupa pelatihan keterampilan atau pengalihan ke bidang pekerjaan lain. Menurutnya, penataan yang humanis perlu memberi jalan bagi juru parkir untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup.
“Daripada kehilangan mata pencaharian lalu terjerumus ke hal yang negatif, lebih baik kita bantu agar mereka punya pekerjaan tetap meskipun sederhana,” pungkasnya. (Adv)













