Samarinda – Hujan deras yang makin sering melanda Balikpapan menjadi perhatian serius dari DPRD Kalimantan Timur. Anggota Komisi II, Sigit Wibowo, menilai bahwa banjir yang kerap terjadi bukan hanya disebabkan cuaca ekstrem, tetapi juga lemahnya antisipasi dari pemerintah kota.
Menurutnya, pola cuaca yang tidak menentu saat ini menuntut kesiapan ekstra, terutama dari sisi infrastruktur drainase, tata ruang, dan kebijakan pengendalian alih fungsi lahan.
“Cuaca saat ini tidak bisa diprediksi dengan pola lama. Ketika hujan lebat turun dalam waktu singkat, kota langsung lumpuh. Artinya, sistem kita tidak siap menghadapi kondisi seperti ini,” ujar Sigit, Kamis (17/7/2025).
Beberapa kawasan disebut rawan, seperti Manggar, MT Haryono, Gunung Samarinda, hingga Puskip. Ia menyoroti perlunya sodetan air langsung ke laut di Manggar, serta pelebaran saluran di MT Haryono dan kawasan sekitar Masjid Al-Islamiyah.
Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong penggunaan teknologi infrastruktur bawah tanah seperti box culvert berskala besar. Sistem ini dinilainya lebih efisien untuk menampung limpasan air hujan yang volumenya terus meningkat akibat pembangunan padat.
“Jangan hanya berpikir memperbaiki permukaan. Di kota-kota maju, pengendalian banjir dilakukan dari bawah tanah. Itu perlu kita pelajari dan terapkan secara bertahap,” jelasnya.
Selain teknis, Sigit juga mengingatkan agar tata ruang kota tidak dikorbankan demi ekspansi pemukiman yang tak terkendali. Ia menegaskan bahwa eksploitasi lahan harus mengacu pada rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
“Kalau ruang hijau terus ditekan dan daerah resapan ditimbun, banjir bukan hanya akan terjadi, tapi jadi bagian dari rutinitas,” tegasnya.
Ia berharap Pemkot Balikpapan segera melakukan audit menyeluruh terhadap titik-titik rawan banjir dan mempercepat penanganan, sebelum dampaknya semakin meluas dan merugikan masyarakat. (ADV DPRD KALTIM)
Penulis NA













