Samarinda – Pendidikan Al-Qur’an di tingkat dasar menghadapi tantangan serius di Kalimantan Timur, khususnya dalam hal kualitas tenaga pengajar dan minimnya penghargaan terhadap guru-guru ngaji. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi Anggota DPRD Kaltim dari Dapil Kutai Kartanegara, Firnadi Ikhsan.
Firnadi menilai bahwa para pengajar Al-Qur’an, yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter religius anak-anak, kerap luput dari perhatian dan dukungan yang memadai.
Meski kontribusi mereka sangat besar, terutama dalam membimbing anak-anak menghafal ayat-ayat suci, hadis, hingga doa-doa harian sejak usia dini, apresiasi terhadap profesi ini masih jauh dari layak.
“Peran guru ngaji sangat krusial dalam membentuk generasi Qur’ani. Tapi realitanya, mereka seringkali menerima honor yang sangat minim. Ini ketimpangan yang tidak bisa terus dibiarkan,” ujar Firnadi, Sabtu (19/7/2025).
Sebagai upaya konkret, Firnadi mendorong percepatan standarisasi kualitas guru ngaji melalui pelatihan dan sertifikasi nasional yang difasilitasi secara cuma-cuma.
Ia membuka akses bagi masyarakat luas, baik yang ingin belajar membaca Al-Qur’an dengan benar maupun yang ingin menjadi pengajar bersertifikat.
Menurut Firnadi, pelatihan ini tidak hanya fokus pada peningkatan kompetensi mengajar, tetapi juga pada penggunaan metode yang terstandarisasi seperti Ummi, Tilawati, dan Qiroati.
Langkah ini diyakini dapat meningkatkan mutu pendidikan Al-Qur’an di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang tersebar di Kukar.
“Kalau kita ingin pendidikan Qur’an yang berkualitas, maka dimulai dari kualitas gurunya. Dan itu tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Negara, masyarakat, dan para wakil rakyat harus turun tangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Firnadi menyatakan bahwa seluruh fasilitas pelatihan, termasuk tempat, narasumber profesional, hingga sertifikasi, disediakan tanpa pungutan biaya sedikit pun.
Hal ini menjadi bagian dari komitmennya dalam memperluas akses pembelajaran Qur’an yang berkelanjutan dan inklusif.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap nasib guru-guru ngaji, yang selama ini menjalankan peran strategis dalam pembangunan karakter bangsa dari akar rumput.
“Kalau kita peduli terhadap masa depan anak-anak kita, maka kita harus peduli terhadap orang-orang yang mengajarkan mereka nilai-nilai kehidupan sejak kecil,” jelasnya.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya mengangkat derajat para pengajar Al-Qur’an, yang selama ini bekerja dengan dedikasi tinggi namun kerap berada di pinggiran kebijakan publik.
Firnadi berharap lebih banyak pihak turut serta memperjuangkan kesejahteraan dan profesionalisme guru ngaji, demi menciptakan generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. (Adv DPRD Kaltim)
Penulis NA













