Samarinda — Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Viktor Yuan, menyoroti lemahnya strategi promosi dalam penyelenggaraan berbagai event di Kota Tepian. Meski banyak kegiatan dan festival yang digelar, ia menilai promosi yang dilakukan belum cukup menonjolkan identitas budaya lokal sebagai kekuatan utama kota.
“Ya, keunggulan Kota Samarinda ini adalah event. Banyak event-event yang diselenggarakan, namun kekurangannya adalah promosi,” ujar Viktor saat ditemui awak media (17/7/2025).
Menurutnya, unsur budaya lokal seharusnya sudah dikenalkan sejak tahap promosi, bukan hanya saat pelaksanaan acara. Strategi ini dinilai penting untuk menarik minat wisatawan sekaligus menggeliatkan sektor ekonomi kreatif.
Sebagai langkah konkret, Viktor mengusulkan penyusunan dan penyebaran kalender event berbasis budaya dan wisata secara luas di berbagai titik strategis.
“Perlu disiapkan misalnya di hotel, di kantor, di tempat-tempat umum itu untuk promosi. Kalender budayanya, kalender wisatanya, kalender event-eventnya yang bisa mengundang orang untuk datang berkunjung,” jelasnya.
Ia pun membandingkan dengan daerah lain seperti Yogyakarta yang telah berhasil membangun sistem promosi wisata dan budaya yang sistematis dan mudah diakses publik. Sementara di Samarinda, informasi semacam itu masih terbatas, bahkan cenderung terpusat di kantor pemerintahan.
“Katakanlah di Jogja sana, kita melihat bagaimana mereka mempromosikan kalender budaya, kalender wisata, tempat wisata dan sebagainya. Samarinda belum itu, mungkin ada, tapi di kantor wali kota. Ini kan jarang orang ke sana,” kata Viktor.
Lebih jauh, ia mendorong Pemkot Samarinda untuk tidak ragu meniru strategi promosi dari daerah-daerah yang telah sukses dalam pengelolaan pariwisata. Menurutnya, mencontoh langkah yang terbukti berhasil justru menjadi bentuk kebijakan yang cerdas, bukan kelemahan.
“Meniru yang baik itu bukan aib, justru itu bagian dari percepatan. Kita tidak perlu mulai dari nol kalau ada contoh yang bisa kita adaptasi,” tegasnya.
Dengan promosi yang lebih terarah dan berbasis budaya, Viktor berharap Samarinda bisa melangkah lebih jauh sebagai kota tujuan wisata, bukan sekadar tuan rumah event. Identitas budaya yang kuat dan promosi yang masif dinilai mampu mendorong kemajuan ekonomi daerah secara lebih merata dan berkelanjutan.
“Event yang banyak ini jangan hanya jadi keramaian sesaat. Harus bisa meninggalkan kesan, menarik kunjungan, dan memberi dampak ekonomi ke masyarakat. Itu baru namanya event yang punya arah,” pungkasnya. (adv)













