TENGGARONG – Pembangunan Jembatan Oloy di Desa Katu Batu, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar), menghadapi tantangan teknis akibat penurunan tanah di sekitar area oprit jembatan.
Fenomena ini terjadi, sejak 2024 dan menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kukar, karena lokasi pembangunan berada di wilayah rawa yang memiliki kontur tanah labil.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar, Linda Juniarti, menjelaskan bahwa penurunan tanah tersebut terjadi di bagian timbunan (oprit), yang menghubungkan bangunan bawah jembatan atau abutmen dengan lantai jembatan.
“Kontraktor sudah empat kali melakukan penanganan, namun penurunan tanah tetap terjadi. Meski demikian, kondisi struktur utama jembatan dipastikan aman dan tidak mengalami perubahan,” ujar Linda, Senin (25/8/2025).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas PU Kukar menggandeng Kortim, tenaga ahli di bidang Bina Marga, guna memberikan rekomendasi teknis.
Dari hasil analisis, solusi yang harus ditempuh adalah membongkar bagian tanah yang mengalami penurunan, lalu melakukan pemadatan dan penambahan agregat.
“Kalau hanya dilakukan pengecoran tanpa pemadatan, penurunan bisa kembali terjadi. Jadi, kami memilih memperkuat dasar tanah agar benar-benar stabil,” tegas Linda.
Oprit yang terdampak diketahui sepanjang kurang lebih 30 meter. Pemerintah Daerah juga tengah memikirkan opsi penanganan permanen agar kejadian serupa tidak berulang.
Linda menjelaskan, penurunan tanah dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir, di mana musim penghujan dan kemarau silih berganti, sehingga memengaruhi karakteristik tanah di wilayah rawa.
Sementara itu, kontraktor pelaksana pembangunan Jembatan Oloy, Muhammad Shafwani, mengakui adanya penurunan tanah sejak 2024.
Ia menegaskan bahwa, pihaknya telah melakukan beberapa kali perbaikan dan tetap bertanggung jawab penuh atas permasalahan ini.
“Kami sudah sering melakukan perbaikan di area penurunan tanah, dan faktor alam memang sulit dihindari, tapi Kami tetap berkomitmen memperbaikinya,” jelas Shafwani.
Jika penanganan masih sesuai dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB), biaya perbaikan akan ditanggung penuh oleh kontraktor.
Namun, jika terdapat kebutuhan tambahan di luar RAB, Dinas PU Kukar siap memberikan dukungan anggaran.
Jembatan Oloy sendiri memiliki peran vital sebagai jalur penghubung masyarakat, dengan pusat Pemerintahan Kecamatan.
Keberadaannya menjadi akses tercepat bagi warga Desa Katu Batu dan sekitarnya. Karena itu, Pemerintah Daerah menekankan pentingnya penanganan segera agar mobilitas masyarakat tidak terganggu.
“Jembatan ini merupakan akses utama masyarakat ke Pusat Pemerintahan Kecamatan. Maka, perbaikannya harus dilakukan dengan serius dan tepat agar bisa digunakan secara maksimal,” kata Linda.
Pemkab Kukar menegaskan akan terus memantau penanganan penurunan tanah di Jembatan Oloy. Kolaborasi antara Pemerintah, kontraktor, dan tenaga ahli diharapkan mampu menghasilkan solusi permanen, sehingga jembatan bisa berfungsi optimal sesuai peruntukan.
“Pemerintah Daerah bersama kontraktor sudah satu suara untuk mencari solusi terbaik, dan harapan Kami, perbaikan segera tuntas dan jembatan ini bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat Muara Muntai,” pungkas Linda. (ADV-DPU Kukar)














