
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur semakin gencar mendorong pengembangan ekonomi kreatif sebagai pilar baru pertumbuhan ekonomi. Upaya ini tidak hanya mengandalkan anggaran daerah, tetapi juga melibatkan peran aktif dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Yusri Yusuf, Anggota DPRD Kutim, menyatakan bahwa pemerintah telah memberikan penekanan khusus mengenai hal ini. “Kami menekankan kedinas persoalan pengembangan ekonomi kreatif tapi mereka masih punya program yang betul betul sesuai dengan kerjaan mereka,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pendekatan kolaboratif yang berimbang. Di satu sisi, pemerintah memiliki visi dan prioritas pembangunan di bidang ekonomi kreatif. Di sisi lain, perusahaan diakui memiliki otonomi dan keahlian khusus untuk merancang program yang relevan dengan bidang usaha dan kapabilitas inti mereka.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan berkelanjutan. Perusahaan didorong menyelaraskan kegiatan CSR dengan pengembangan ekonomi kreatif dalam koridor operasional mereka sendiri. Perusahaan teknologi digital, misalnya, dapat melatih pemrograman kepada anak muda, sementara perusahaan fashion dapat memberdayakan pengrajin lokal.
Dengan demikian, kontribusi yang diberikan bukan sekadar bantuan dana, tetapi transfer ilmu, akses pasar, dan peningkatan kapasitas yang benar-benar dapat membangun kemandirian pelaku ekonomi kreatif. Program yang lahir dari keselarasan ini diyakini akan lebih tepat sasaran dan memiliki dampak jangka panjang yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Pada akhirnya, sinergi antara arahan pemerintah dan implementasi oleh perusahaan menjadi kunci keberhasilan. Melalui kemitraan yang saling mendukung ini, pengembangan ekonomi kreatif di Kutai Timur dapat berjalan lebih masif dan efektif, menciptakan ekosistem yang kondusif bagi lahirnya talenta kreatif dan usaha baru yang inovatif untuk kemajuan daerah. (ADV)













