Kukar- Air di Hulu Mahakam pagi itu mengalir Deras, memantulkan cahaya matahari di Desa Jantur Selatan dan Jantur Baru, Kecamatan Muara Muntai. Di tepian sungai inilah Anggota DPRD Kalimantan Timur, Baharuddin Demmu, memulai agenda Reses Masa Sidang I Tahun 2026 yang berlangsung 25 Januari hingga 1 Februari 2026.
Di sebuah rumah warga yang sederhana, warga mulai berkumpul. Sebagian datang setelah menambatkan perahunya. Mayoritas dari mereka adalah nelayan, yang hidupnya sangat bergantung pada sungai.
Baharuddin Demmu duduk di tengah warga, mendengarkan satu per satu aspirasi yang disampaikan. Tidak ada podium tinggi, tidak ada jarak yang kaku. Yang ada hanyalah percakapan tentang kebutuhan hidup sehari-hari.
“Rata-rata masyarakat di sini adalah nelayan, jadi yang paling banyak disampaikan itu soal alat kerja mereka,” kata Baharuddin Demmu.
Menurutnya, mesin ketinting menjadi kebutuhan utama karena menjadi sarana transportasi sekaligus penopang utama aktivitas bekerja.
“Mesin ketinting itu bagi nelayan bukan barang mewah, tapi kebutuhan pokok. Kalau mesinnya rusak, mereka tidak bisa bekerja,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Baharuddin Demmu juga menjelaskan secara langsung kepada warga tentang prosedur mendapatkan bantuan dari pemerintah provinsi.
“Saya selalu bilang ke masyarakat, bantuan itu ada, tapi harus lewat mekanisme yang benar. Harus ada kelompoknya, ada proposalnya, supaya bisa diproses secara resmi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa reses bukan hanya untuk mendengar keluhan, tetapi memastikan aspirasi bisa ditindaklanjuti secara nyata.
“Reses ini bukan sekadar datang, dengar, lalu pulang. Saya ingin apa yang disampaikan masyarakat benar-benar saya perjuangkan di provinsi,” tegasnya.
Baharuddin Demmu juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menyalurkan ratusan mesin ketinting untuk nelayan di Muara Muntai dalam dua tahun terakhir.
“Alhamdulillah, selama dua tahun terakhir di Muara Muntai saya sudah membagikan mesin ketinting kurang lebih 177 unit. Itu semua untuk membantu produktivitas nelayan,” katanya.
Baginya, pembangunan tidak selalu harus berupa proyek besar. Kadang, satu mesin kecil bisa mengubah kehidupan satu keluarga.
“Kalau nelayan bisa bekerja lebih jauh, lebih lama, hasilnya juga lebih baik. Itu yang saya kejar, bagaimana kebijakan bisa langsung dirasakan,” ujar Baharuddin Demmu.
Di Hulu Mahakam, di antara perahu kayu dan jaring ikan yang dijemur, politik terasa lebih sederhana. Bukan soal pidato panjang, melainkan soal mendengar, memahami, dan menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan. Di sanalah, reses menemukan maknanya yang paling nyata. (Mujahid)













