Samarinda — Tata kelola parkir di kawasan pergudangan kembali menjadi sorotan. Masalah klasik tersebut mencuat usai insiden kecelakaan antara truk pengangkut sampah dan sebuah kontainer di kawasan pergudangan Jalan Teuku Umar, Loa Bakung, Samarinda, pada subuh dini hari, Selasa (31/3/2026).
Peristiwa itu langsung memicu respons cepat dari DPRD Samarinda. Anggota DPRD Samarinda, Ronal Stephen Lonteng, turun tangan dengan menggelar pertemuan bersama pihak Perumda Varia Niaga Samarinda guna membahas persoalan pengelolaan parkir di kawasan pergudangan.
Direktur Utama Perumda Varia Niaga Samarinda, Syamsuddin Hamade, menilai pertemuan tersebut sebagai langkah positif untuk menyamakan pemahaman antar pihak.
“Saya rasa sangat positif ya, agar kita sama-sama memahami tugas kewenangan dan kesulitan masing-masing di setiap bidang. Kami juga senang sekali bisa menjelaskan apa yang menjadi kewenangan dan permasalahan kami dalam pengelolaan pergudangan. Alhamdulillah diterima baik oleh Pak Ronal mewakili DPRD Samarinda, dan langsung beliau menindaklanjuti serta memberikan arahan bagaimana kita bisa mengelola dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, sejak 2016 saat Varia Niaga masih bernama PD PAU, kewenangan pengelolaan parkir tidak lagi berada di pihaknya. Meski demikian, Varia Niaga tetap berupaya melakukan mitigasi terhadap berbagai potensi gangguan di kawasan pergudangan.
“Secara tugas kami melakukan mitigasi hal-hal yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi pelaku bisnis di pergudangan. Salah satunya mengelola jasa kebersihan, agar sampah bisa dipilah dan langsung dibawa ke TPA. Kami juga rutin membersihkan selokan untuk mencegah banjir,” jelasnya.
Namun, ia mengakui persoalan terbesar terletak pada kepatuhan dalam memarkirkan kontainer, yang berada di luar kewenangan pihaknya.
“Memang kesulitan kami terkait kepatuhan dalam memarkirkan kontainer, karena itu sudah di luar kewenangan kami. Kami hanya bisa menghimbau melalui asosiasi pemilik gudang, tapi di lapangan masih sering terjadi parkir yang membahayakan keselamatan, baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat sekitar,” ungkap Syamsuddin.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan ALFI/ILFA, yang sebagian besar anggotanya merupakan pemilik truk kontainer. Namun, menurutnya, persoalan parkir tetap berujung pada keterbatasan lahan.
“Kami juga sering berdiskusi dengan ALFI/ILFA. Sebenarnya mereka juga butuh solusi, karena solusi yang paling paten adalah menyiapkan lahan parkir,” tambahnya.
Sebagai langkah ke depan, Varia Niaga berencana menyiapkan kantong parkir khusus untuk menampung kendaraan kontainer. Dengan adanya fasilitas tersebut, diharapkan tidak ada lagi parkir liar di badan jalan.
“Langkah yang kami lakukan adalah menyiapkan kantong parkir. Ketika sudah ada, maka semua kontainer harus masuk ke sana. Jika tidak, kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan atau Satlantas untuk menerapkan punishment, karena solusi sudah tersedia. Selama ini sulit menerapkan sanksi karena belum ada alternatif,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kondisi operasional di lapangan, di mana banyak kontainer harus menunggu proses bongkar muat selama satu hingga dua hari tanpa fasilitas parkir memadai.
“Misalnya ada enam kontainer yang datang dari pelabuhan untuk loading, mereka harus menunggu satu hingga dua hari. Sementara tidak ada tempat parkir untuk menunggu, sehingga akhirnya parkir di sembarang tempat,” Pungkasnya. (Mujahid)













