Samarinda – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengakui keterbatasan armada pengangkut sampah di tengah perluasan wilayah layanan, seiring kebijakan penggabungan sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Pertamanan DLH Samarinda, Basuni, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari program kerja DLH sekaligus arahan Wali Kota. Namun, konsekuensinya adalah meningkatnya cakupan wilayah kerja yang harus diimbangi dengan kesiapan armada.
“Dengan penggabungan TPS, wilayah kerja tentu semakin meluas. Artinya kebutuhan armada juga harus ikut dipertimbangkan,” ujarnya, Kamis (30/4/2026)
Ia mengakui, kondisi armada saat ini belum sepenuhnya memadai, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Berdasarkan data terakhir, DLH Samarinda masih memiliki sekitar 80 unit armada yang aktif beroperasi.
“Kalau ditanya cukup atau tidak, memang belum. Jumlahnya terbatas, dan dari sisi kualitas juga banyak yang sudah berumur,” jelasnya.
Basuni menyebut, hanya sebagian kecil armada yang tergolong berusia muda, sementara mayoritas telah beroperasi lebih dari lima tahun. Bahkan, terdapat unit yang usianya diperkirakan telah melampaui 15 tahun.
Kondisi tersebut berdampak pada tingginya biaya operasional, terutama untuk perawatan dan konsumsi bahan bakar.
“Semakin tua armada, biaya perawatannya lebih mahal dan BBM-nya juga lebih boros. Ini tentu jadi perhatian kami,” katanya.
Meski demikian, DLH Samarinda tetap berupaya mengoptimalkan armada yang ada guna menjaga pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan.
Terkait penambahan armada, Basuni menyebut pengusulan telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Namun, realisasi pengadaan akan bergantung pada kemampuan fiskal daerah serta mekanisme penganggaran yang melibatkan instansi teknis terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
“Pengusulan pasti ada, tapi pengadaannya tentu disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah,” pungkasnya. (Mujahid)












