SAMARINDA – Pengembangan pariwisata Kota Samarinda menghadapi tantangan berbeda dibandingkan daerah yang memiliki kekayaan wisata alam sebagai daya tarik utama.
Samarinda dinilai memiliki potensi pariwisata yang cukup besar. Namun, sebagian besar potensi tersebut membutuhkan pembangunan fasilitas, penataan kawasan hingga dukungan anggaran agar dapat berkembang menjadi destinasi yang menarik wisatawan.
Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Andy Ariefin, mengatakan karakter pariwisata Kota Tepian berbeda dengan daerah seperti Bali maupun Yogyakarta yang memiliki banyak destinasi berbasis kekayaan alam.
Menurutnya, Samarinda lebih banyak membutuhkan pengembangan wisata buatan maupun pengolahan potensi yang sudah tersedia.
“Samarinda ini tipikalnya tidak seperti Bali untuk konteks pariwisata, tidak seperti Jogja yang mereka dimanjakan oleh alam,” kata Andy, Senin (31/8/2026)
Ia menegaskan bukan berarti Samarinda tidak memiliki potensi wisata. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dikembangkan hingga memiliki daya tarik yang mampu mendatangkan wisatawan.
Salah satu yang dinilai memiliki prospek besar adalah Sungai Mahakam. Namun, Andy mengatakan mengubah kawasan sungai menjadi destinasi wisata membutuhkan intervensi yang tidak sedikit.
“Contoh Mahakam. Mahakam untuk dipoles menjadi tujuan wisata itu perlu ekstra. Pak Wali harus membangun Teras,” ujarnya.
Menurut Andy, pembangunan Teras Samarinda menjadi salah satu contoh bagaimana pemerintah harus melakukan penataan kawasan terlebih dahulu sebelum potensi yang tersedia dapat menjadi daya tarik wisata.
Pengembangan kawasan tepian Mahakam juga membutuhkan pembangunan berkelanjutan dengan dukungan anggaran yang cukup besar.
“Sepanjang sungai, sepanjang enam kilometer itu harus dipoles. Itu kan memerlukan ekstra dan biaya yang tidak kecil,” ungkapnya.
Tidak hanya penataan kawasan, konsep wisata berbasis susur Sungai Mahakam juga membutuhkan sarana transportasi khusus.
“Kalau kita mau menyusur sungai, kita perlu kapal dan itu juga tidak kecil modalnya,” katanya.
Andy mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan sektor pariwisata Samarinda.
Daerah yang telah memiliki keunggulan bentang alam, kata dia, relatif lebih mudah membangun destinasi karena pemerintah cukup memperkuat fasilitas dan pengelolaannya.
“Kalau wisata alam ya kita tahu bersama, seperti beberapa daerah yang dimanjakan oleh alamnya. Di Jogja itu tidak usah terlalu banyak ekstra tenaga, dipoles sedikit sudah jadi tempat wisata, orang pada berdatangan,” ujarnya.
Sementara Samarinda harus melakukan investasi lebih besar untuk menciptakan daya tarik baru maupun mengembangkan potensi yang telah tersedia.
Karena itu, wisata buatan menjadi salah satu alternatif yang dinilai realistis untuk terus dikembangkan.
“Di sini itu yang menjadi kendala. Kita tidak punya secara alami yang seperti itu. Ya kita punya potensi, bukan tidak punya. Cuma potensi itu perlu ekstra untuk mengembangkan,” tuturnya.
Andy menilai tantangan tersebut perlu dijawab melalui perencanaan pembangunan yang konsisten. Potensi Sungai Mahakam, kawasan tepian, ruang publik hingga wisata buatan dapat menjadi kekuatan baru apabila dibangun dengan konsep yang jelas dan didukung sarana memadai.
Pengembangan itu juga diharapkan mampu menambah pilihan destinasi di Samarinda sehingga sektor pariwisata dapat memberikan dampak lebih besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.












