BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mendeteksi sebanyak 18.402 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan Timur (Kaltim). Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan periode kemarau serupa pada Agustus 2015.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, mengatakan pada Agustus 2015 tercatat sekitar 9.793 titik panas.
“Jumlah ini mengalami peningkatan ketimbang musim kemarau serupa pada Agustus 2015 lalu yang sebanyak 9.793 titik. Jumlahnya lebih banyak karena fenomena El Nino tahun ini lebih kering,” kata Huda, dilansir dari Antara, Rabu (2/9/2026).
BMKG, kata dia, terus melakukan pemantauan titik panas secara berkala setiap beberapa jam. Ketika ditemukan adanya titik panas, informasi dan peringatan dini segera disampaikan kepada instansi terkait.
Informasi tersebut mencakup lokasi titik panas, tingkat kepercayaan deteksi, hingga koordinat. Data kemudian diteruskan kepada Badan Penanggulangan Bencana, Dinas Pemadam Kebakaran, serta instansi terkait lainnya untuk dilakukan pengecekan di lapangan.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan titik panas tersebut merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tim yang dibentuk pemerintah daerah bersama relawan akan langsung melakukan penanganan.
Huda menegaskan, upaya pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat. Edukasi serta mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat.
Warga juga diingatkan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi kering yang disertai angin kencang dapat membuat api dengan cepat merembet dan sulit dikendalikan.
Selain pembukaan lahan, masyarakat diminta berhati-hati saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti membakar sampah. Pekerja perkebunan maupun masyarakat yang beraktivitas di kawasan hutan juga diingatkan tidak membuang puntung rokok yang masih menyala.
Puntung rokok yang dianggap sepele dapat membakar daun dan vegetasi kering sehingga berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas.
“Ajakan ini harus terus menerus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan, karena puncak El Nino lebih kering di Kaltim diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober, sehingga kemungkinan titik panas pun akan meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan pada 1 September 2026 pukul 01.00 hingga 24.00 WITA, BMKG mencatat sebanyak 1.134 titik panas di Kalimantan Timur.
Sebaran titik panas tersebut didominasi Kabupaten Berau dengan 604 titik. Selanjutnya Paser 232 titik, Kutai Timur 117 titik, Kutai Kartanegara 83 titik, Kutai Barat 58 titik, Penajam Paser Utara 25 titik, Mahakam Ulu 9 titik, Samarinda 5 titik, dan Balikpapan 1 titik.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat di seluruh wilayah Kaltim diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama selama periode September hingga Oktober yang diperkirakan menjadi periode lebih kering.
Pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.













