Samarinda,- Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, mengungkapkan kompleksitas dan ketidakpastian yang mewarnai pemilihan Wali Kota Samarinda (Pilwali). Menurutnya, proses pemilihan ini menjadi panjang dan penuh ketidakpastian karena banyak partai politik yang masih menunggu keputusan Surat Keputusan (SK) dukungan.
“Yang menarik dari Pilwali Samarinda adalah kenapa prosesnya agak panjang. Semua partai wetensi, karena ini tergantung pada siapa yang mendapatkan SK pertama. Misalnya, Pak Wali Kota yang memiliki polaritas dan elektabilitas tinggi, tetapi sampai detik ini belum ada SK. Jadi partai pasti wetensi, kalau kita kasih SK dan ternyata dia memilih independen, cintaku bertepuk sebelah tangan. Kan repot,” ungkap Abdul Rohim (17/7/2024).
Abdul Rohim menjelaskan bahwa situasi ini membuat banyak partai berhati-hati dalam mengambil keputusan. Mereka menunggu keputusan lebih lanjut sebelum memberikan dukungan resmi.
“Misalnya, jika Andi Harun mendapatkan SK dari satu atau dua partai, ini kan banyak partai yang mendekat ke Andi Harun dengan menawarkan kader sebagai pasangannya. Jadi kalau Andi Harun dapat SK, pertanyaannya adalah SK itu dia gandeng sama siapa? Karena kita dengar kalau tidak digandeng kader partainya, dia akan tidak mendukung dan akan memilih mengonsolidasi partai lain untuk calon baru,” tambahnya.
Ketidakpastian ini menambah kerumitan situasi politik di Samarinda. Abdul Rohim menekankan pentingnya menunggu situasi yang lebih konkret dari Andi Harun untuk melihat arah koalisi dan pasangan calon yang akan diusung.
“Dengan situasi yang masih belum jelas ini, Samarinda menunggu keputusan yang lebih konkret dari Andi Harun. Kita lihat ke depannya bagaimana perkembangan dan arah koalisi ini,” tutup Abdul Rohim. (ADV)













