Samarinda,- Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, memberikan penjelasan mengenai hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kota Samarinda, yang membahas progres anggaran APBD 2024 serta usulan perubahan anggaran dan anggaran murni untuk tahun 2025.
Puji menyebutkan beberapa hambatan utama yang dihadapi dalam meningkatkan literasi dan fasilitas perpustakaan di Samarinda.
“Hambatan pertama adalah sumber daya manusia (SDM) dan sarana-prasarana (sapras). Sosialisasi mengenai literasi masih kurang, dan pemerintah kota ingin meningkatkan literasi di Samarinda, yang memerlukan anggaran untuk menyiapkan SDM dan sarana-prasarana,” ujar Puji pada Kamis (25/7/2024).
Puji menyoroti pentingnya pembangunan fasilitas seperti taman baca masyarakat (TBM) dan playground yang ada di beberapa kelurahan untuk mendekatkan layanan perpustakaan kepada masyarakat. Namun, ia mengakui adanya tantangan dalam hal anggaran dan pemeliharaan fasilitas tersebut.
“Program seperti ini masih terbatas karena anggaran yang kurang. Keuangan daerah juga belum mencukupi, dan SDM serta sarana-prasarana masih kurang,” tambahnya.
Dispursip telah mengajukan rekomendasi ke Kementerian PANRB dan mendapatkan dukungan untuk menyiapkan sekitar 28 pustakawan atau arsiparis.
Masalah lain yang disoroti adalah kurangnya mobil perpustakaan keliling dan fasilitas arsip.
“Saat ini, mobil perpustakaan keliling sudah ada, namun mobil untuk kearsipan masih belum tersedia. Ini penting mengingat kondisi Samarinda yang rentan terhadap bencana seperti banjir, longsor, dan kebakaran,” jelasnya.
Usulan untuk membangun depo arsip yang telah diajukan selama tiga tahun terakhir belum juga terealisasi. Lebih lanjut, Puji menilai kondisi playground di beberapa lokasi kurang terawat.
“Beberapa playground terlihat tidak terurus, dengan rumput yang tinggi dan sampah yang berserakan. Penting untuk memastikan bahwa ada pengelolaan dan pemeliharaan yang baik untuk fasilitas-fasilitas ini,” katanya.
Dalam hal kunjungan, Puji mencatat adanya peningkatan. Ia berharap pemerintah kota dapat mempertimbangkan semua isu ini untuk meningkatkan layanan perpustakaan dan kearsipan di Samarinda, terutama dalam meningkatkan akses literasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Dengan koleksi 50 ribu judul buku, kunjungan meningkat. Namun, masih ada keluhan terkait akses buku digital yang memerlukan biaya besar. Selain itu, mobil perpustakaan keliling dan biaya operasional bensin perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan akses literasi di daerah-daerah terpencil,” tutupnya. (ADV)













