Anggota DPRD Kalimantan Timur, Andi Satya Adi Saputra, mengungkapkan keprihatinannya mengenai ketimpangan dalam distribusi tenaga medis di provinsi ini. Meski jumlah penduduk Kaltim yang hampir mencapai 4 juta jiwa terus meningkat, kebutuhan akan dokter tetap jauh dari terpenuhi. Menurutnya, masalah ini tidak hanya berdampak pada kualitas layanan kesehatan, tetapi juga memperburuk ketidakmerataan pembangunan di daerah-daerah terpencil.
Saat ditemui, Andi Satya menjelaskan bahwa meskipun Kaltim memiliki sekitar 2.000 dokter, jumlah ini belum mencakup kebutuhan yang disarankan oleh standar internasional.
“WHO merekomendasikan satu dokter untuk setiap 1.000 penduduk. Artinya, untuk Kaltim yang memiliki hampir 4 juta jiwa, idealnya harus ada sekitar 4.000 dokter,” ujarnya, Senin (18/11/24).
Lebih jauh, Andi Satya menyoroti persoalan distribusi tenaga medis yang sangat tidak merata. Kota-kota besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang menjadi tempat terkonsentrasinya sekitar 80 persen dari total jumlah dokter di Kaltim. Sementara itu, wilayah-wilayah lainnya yang lebih terpencil justru kekurangan tenaga medis yang sangat dibutuhkan.
“Ini semakin memperburuk akses kesehatan di daerah-daerah jauh dari kota, di mana fasilitas dan kesejahteraan bagi tenaga medis juga terbatas,” tambahnya.
Masalah ini semakin kompleks dengan kenyataan bahwa sebagian besar dokter spesialis, yang berjumlah sekitar 800 orang, memilih untuk bekerja di daerah perkotaan karena fasilitas dan insentif yang lebih baik. Andi Satya menilai hal ini wajar, tetapi ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran kunci dalam menciptakan kondisi yang lebih menarik bagi dokter agar mereka mau bertugas di daerah yang membutuhkan.
“Perbaikan infrastruktur kesehatan di wilayah terpencil sangat diperlukan. Selain itu, pemberian insentif yang memadai juga bisa menjadi daya tarik bagi tenaga medis untuk melayani di sana,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kebijakan pemerintah dalam menciptakan kesejahteraan bagi tenaga medis agar distribusi dokter dapat lebih merata.
Menurut Andi Satya, ketimpangan dalam distribusi tenaga medis ini bukan hanya masalah sektor kesehatan, tetapi juga menjadi hambatan dalam pemerataan pembangunan di Kaltim.
“Investasi dalam fasilitas kesehatan di luar kota besar harus menjadi prioritas. Dengan perhatian serius, kita bisa memastikan semua warga Kaltim mendapatkan layanan kesehatan yang layak,” pungkasnya. (ADV)













