Samarinda— Banjir kembali melanda wilayah Kecamatan Sungai Pinang dan Samarinda Utara setelah hujan deras mengguyur sejak dini hari, Selasa (28/1). Ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan mencapai hingga 1,5 meter, dengan Kelurahan Sempaja Timur menjadi kawasan terdampak terparah. Sebanyak 357 rumah di 9 RT terendam, mengakibatkan 1.121 kepala keluarga (KK) harus berjibaku dengan air.
Selain Sempaja Timur, banjir juga melanda Kelurahan Gunung Lingai dan Budaya Pampang, meskipun ketinggian air di kedua wilayah tersebut relatif lebih rendah, yaitu 30 hingga 50 cm. Debit air di Bendungan Lempake menunjukkan kenaikan signifikan, menjadi perhatian utama petugas setempat.
Kapolsek Sungai Pinang, AKP Aksarudin Adam, S.H., mengonfirmasi langkah-langkah darurat yang telah dilakukan.
“Kami bekerja sama dengan BNPB, BPBD Kota Samarinda, Koramil Samarinda Utara, serta para relawan untuk mendirikan posko penanggulangan banjir dan dapur umum di Kelurahan Sempaja Timur serta SMKN 16. Bhabinkamtibmas di lapangan juga terus membantu evakuasi warga dan distribusi logistik,” jelasnya.
AKP Aksarudin menekankan pentingnya kewaspadaan warga terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap memantau informasi terkini, menjaga keselamatan, dan segera menghubungi posko jika membutuhkan bantuan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di beberapa wilayah mulai berangsur surut, namun hujan ringan masih terus mengguyur. Pemerintah daerah berupaya mempercepat proses pemulihan, termasuk pengerahan pompa air tambahan dan pembersihan saluran drainase.
Banjir ini kembali menyoroti masalah klasik pengelolaan drainase di Samarinda yang belum optimal. Dengan semakin seringnya intensitas hujan ekstrem, diperlukan langkah strategis untuk mencegah bencana serupa di masa depan. Koordinasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam memperbaiki infrastruktur, sekaligus meningkatkan kapasitas tanggap darurat.
Sebagai kota besar yang terus berkembang, Samarinda harus menghadapi tantangan serius dalam membangun kota yang lebih tangguh terhadap bencana. Keberlanjutan langkah ini akan menentukan bagaimana kota ini melindungi warganya dari ancaman banjir di tahun-tahun mendatang. (Mujahid)













