Samarinda — PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang dijual di SPBU. Penyesuaian harga tersebut mulai berlaku sejak 18 April 2026 dan langsung memicu kekhawatiran akan dampak berantai terhadap perekonomian, khususnya di daerah.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengungkapkan bahwa kenaikan ini sebenarnya telah diprediksi sebelumnya. Ia menyebut, keterbatasan kemampuan pemerintah dalam memberikan subsidi menjadi salah satu faktor utama penyesuaian harga.
“Memang mau tidak mau ini sudah kita perkirakan. Sampai sejauh mana pemerintah bisa menahan subsidi, itu ada batasnya,” ujarnya, Rabu (22/4/2026)
Menurutnya, kenaikan BBM—terutama jenis non subsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite—akan memicu efek berantai (multiplier effect) yang luas, termasuk peningkatan inflasi. Hal ini tak terlepas dari peran BBM dalam menunjang sektor transportasi dan distribusi.
“Kalau BBM naik, pasti berdampak ke transportasi. Sementara dalam dunia usaha, biaya transportasi itu bisa menyumbang sekitar 30 persen dari harga pokok produksi. Jadi mau tidak mau, harga barang ikut naik,” jelasnya.
Dampak tersebut, lanjut Iswandi, tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga masyarakat luas melalui kenaikan harga bahan pokok penting (bapokting). Terlebih bagi komoditas yang didatangkan dari luar daerah, biaya distribusi akan semakin tinggi.
“Ambil contoh bapokting, kalau distribusinya dari luar daerah, tentu ada tambahan biaya transportasi. Ini yang saya maksud efek berantai tadi,” katanya.
Ia juga menilai, kondisi global turut memengaruhi kebijakan harga energi di dalam negeri. Dinamika geopolitik internasional disebut menjadi salah satu faktor yang sulit dihindari dampaknya bagi ekonomi Indonesia.
“Masalah geopolitik internasional pasti berimbas ke kita, terutama di sektor ekonomi,” tambahnya.
Meski demikian, Iswandi mengakui pemerintah tidak memiliki banyak ruang untuk melakukan intervensi dalam jangka pendek, termasuk dalam hal sosialisasi kenaikan harga.Menurutnya, kebijakan seperti ini kerap terjadi secara mendadak mengikuti dinamika pasar.
“Kadang tidak ada sosialisasi panjang, tiba-tiba tanggal tertentu langsung naik. Itu hal yang biasa,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.
“Imbauannya, masyarakat harus pintar-pintar mengatur keuangan,” katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa BBM bersubsidi seperti Pertalite masih tersedia dengan harga yang relatif stabil. Oleh karena itu, penggunaan BBM bersubsidi harus tepat sasaran agar dampak kenaikan tidak semakin meluas.
“Kalau pelaku usaha tertentu masih bisa menggunakan BBM bersubsidi sesuai aturan, tentu dampaknya tidak terlalu besar,” tambahnya.
Sebagai informasi, harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp19.400 per liter, naik Rp6.300 dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Sementara Dexlite mengalami kenaikan lebih tinggi menjadi Rp23.600 per liter, atau melonjak Rp9.400 dari harga sebelumnya Rp14.200 per liter. (Mujahid)













