Samarinda: Krisis tenaga pengajar di Kota Samarinda makin terasa. Setiap tahun, jumlah guru yang pensiun terus bertambah, namun proses rekrutmen tidak mampu mengimbanginya akibat terbentur regulasi yang berlaku. Hal ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan proses belajar-mengajar di sekolah.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi sorotan utama dalam rapat kerja bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda.
“Setiap tahun banyak guru pensiun, tapi tidak ada rekrutmen baru yang sebanding. Padahal tenaga pengajar sangat diperlukan sekarang,” ujarnya (11/7/2025).
Menurut Novan, kekurangan ini tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga berimbas pada kualitas pengajar yang ada. Komisi IV mencatat bahwa kompetensi guru di beberapa sekolah mulai menurun, terutama karena beban kerja yang tidak seimbang dengan jumlah tenaga yang tersedia.
Disdikbud pun disebut menghadapi tantangan berat karena keterbatasan regulasi rekrutmen. Kondisi ini semakin menyulitkan pemenuhan kebutuhan guru di tengah tuntutan pendidikan yang kian berkembang.
“Dinas juga terbentur aturan, sementara setiap tahun puluhan guru pensiun. Ini berdampak besar terhadap proses pendidikan,” lanjut Novan.
Oleh karena itu, Komisi IV DPRD Samarinda mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan infrastruktur pendidikan. Selain itu, ia meminta agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terkait dapat bersinergi mencari solusi peningkatan kapasitas tenaga pengajar di Samarinda.
“Supaya kita bisa menjawab pesatnya perkembangan sektor pendidikan di kota ini,” tutup Novan. (adv)













