Samarinda — Walikota Samarinda, Andi Harun, menyoroti tingginya ketergantungan Kalimantan Timur terhadap pasokan pangan dari luar daerah yang dinilai masih berada di atas 70 hingga 80 persen.
Hal itu disampaikannya usai menghadiri kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Samarinda Tahun 2027, yang digelar pada Rabu (1/4/2026), di Arutala Ballroom, BAPPERIDA Kota Samarinda.
Menurut Andi Harun, persoalan ketahanan pangan di Samarinda tidak dapat dilihat secara parsial, melainkan harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas di tingkat provinsi.
“Ini bukan cuma persoalan Samarinda, ini persoalan satu Kalimantan Timur. Ketergantungan pangan kita dari luar daerah di atas 70 persen, bahkan bisa lebih dari 80 persen,” ujarnya.
Ia mengingatkan, dalam jangka panjang kondisi tersebut berisiko tinggi, terutama di tengah potensi anomali cuaca yang dapat memicu gagal panen di daerah pemasok utama seperti Sulawesi dan Jawa Timur.
“Kalau daerah penghasil itu mengalami gagal panen, untuk mereka saja belum tentu cukup, apalagi untuk dikirim ke daerah lain,” katanya.
Andi Harun menyebut, produksi pangan di Kalimantan Timur saat ini masih jauh dari mencukupi kebutuhan masyarakat. Bahkan, ia menilai total produksi yang ada belum tentu mampu memenuhi kebutuhan satu kabupaten atau kota.
“Kalau dikumpulkan semua produksi dari sawah-sawah yang ada di Kaltim, mungkin untuk memberi makan satu kabupaten atau satu kota saja tidak cukup,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong adanya langkah strategis jangka panjang melalui sinergi lintas kabupaten/kota di Kalimantan Timur, termasuk program pencetakan sawah baru dan pemanfaatan teknologi pertanian.
“Perlu ada program yang tersinergi antar kabupaten kota, seperti pencetakan sawah dan penggunaan teknologi pertanian,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif seperti batu bara dan migas, serta mulai memprioritaskan sektor pangan sebagai kebutuhan dasar masyarakat.
“Kita tidak mungkin terus-menerus mengidolakan batu bara dan migas. Yang penting itu perut rakyat, ketahanan pangan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh komoditas pangan di Samarinda masih bergantung pada pasokan luar daerah, mulai dari beras, telur, sayur-mayur, hingga buah-buahan.
“Buah-buahan yang ada di Samarinda hampir 100 persen berasal dari luar daerah,” ujarnya.
Andi Harun menilai, upaya membangun ketahanan pangan di Kalimantan Timur sebenarnya sudah relatif terlambat, sehingga diperlukan langkah konkret dan terintegrasi antar pemerintah daerah.
Ia mendorong adanya perencanaan terpadu, termasuk menghitung kebutuhan pangan tahunan di tingkat provinsi dan menentukan luas lahan pertanian yang harus disiapkan untuk mencukupi kebutuhan tersebut.
“Kita hitung kebutuhan beras satu Kaltim berapa ton, lalu kita buka sawahnya berapa hektar supaya bisa memenuhi produksi,” katanya.
Sebagai perbandingan, ia menyinggung keberhasilan pengembangan pertanian di Papua yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain.
“Papua saja sudah bisa bikin sawah dan relatif berhasil. Dulu sangat bergantung, sekarang sudah mulai berkurang,” ujarnya.
Ia menegaskan, Kalimantan Timur tidak bisa terus-menerus bergantung sepenuhnya pada pasokan pangan dari luar daerah, dan perlu segera membangun kemandirian pangan secara konkret.
“Kita tidak boleh terus melanjutkan ketergantungan 100 persen pada daerah luar. Saatnya kita mulai memikirkan langkah konkret ketahanan pangan,” pungkasnya. (Iqbal Al-Fiqri)













