DEPOK – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, meminta generasi muda tidak canggung menggunakan Bahasa Kutai dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, keberlangsungan bahasa daerah sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat menggunakannya secara alami, terutama di lingkungan keluarga.
Pesan tersebut disampaikan Mahyunadi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 di lingkungan PPSDM Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat. Dalam kegiatan itu, Mahyunadi menerima penghargaan kepala daerah dalam program revitalisasi bahasa daerah.
Mahyunadi menegaskan pelestarian Bahasa Kutai tidak dapat hanya mengandalkan sekolah. Pendidikan formal memang menjadi sarana penting untuk mengenalkan bahasa daerah, tetapi keluarga memiliki posisi yang lebih awal dalam membentuk kebiasaan berbahasa anak.
“Bahasa daerah jangan hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus digunakan di rumah sebagai bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya.
Ia mengatakan banyak anak, terutama di kawasan perkotaan dan penyangga industri, kini lebih akrab dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena bahasa daerah dapat semakin jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Menurut Mahyunadi, ketika bahasa daerah ditinggalkan, yang terancam hilang bukan hanya kosakata. Ingatan kolektif, nilai budaya, tata krama, petuah, hingga falsafah hidup masyarakat juga berpotensi ikut surut karena sebagian diwariskan melalui bahasa.
Ia menilai rumah merupakan tempat pertama anak mengenali jati diri kebudayaannya. Karena itu, penggunaan bahasa daerah dalam percakapan orang tua dan anak menjadi bagian penting dari proses pewarisan budaya.
“Kalau hanya diajarkan di sekolah tanpa dipakai di rumah, lama-lama anak-anak menganggap bahasa daerah hanya sebatas pelajaran, bukan bagian dari identitas mereka,” katanya.
Di Kutim, muatan lokal Bahasa Kutai telah diterapkan pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah mempertahankan budaya lokal.
Mahyunadi menegaskan generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah.
“Generasi muda memiliki peran penting menjaga Bahasa Kutai agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.(adv)













