SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menekankan pentingnya penguatan data industri melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) sebagai fondasi dalam pengembangan hilirisasi komoditas unggulan dan perluasan pasar ekspor.
Penegasan itu disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekobang) Sekretariat Kabupaten Kutim, Noviari Noor, saat membuka Rapat Kerja Teknis Hilirisasi Potensi Komoditi dan Peluang Ekspor di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim.
Menurut Noviari, keberhasilan program hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengolah komoditas menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga bergantung pada tersedianya data industri yang lengkap dan akurat.
Seluruh pelaku industri kecil dan menengah bersama pemangku kepentingan diminta aktif memperbarui data produksi dan lokasi usaha melalui SIINas agar pemerintah dapat menyusun kebijakan berbasis kondisi riil di lapangan.
“Tanpa data yang valid, kita sulit menentukan langkah strategis. Karena itu, partisipasi aktif pelaku usaha sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Selain penguatan data, pemerintah daerah tetap menjadikan hilirisasi sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing produk unggulan Kutim. Komoditas seperti pisang, kakao, aren genjah, dan nanas dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Rapat kerja tersebut juga menjadi forum koordinasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga pendukung, BUMD, Dekranasda, serta Ekspor Center dalam memetakan potensi komoditas yang siap memasuki pasar ekspor.
Pemetaan dilakukan secara lebih rinci, meliputi kapasitas produksi hingga kesiapan produk agar mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional. Langkah tersebut diharapkan dapat membentuk ekosistem ekspor yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, pemerintah juga menyampaikan apresiasi kepada para eksportir dan seluruh pihak yang telah berkontribusi terhadap perkembangan sektor industri dan perdagangan di Kutim.
Penguatan hilirisasi juga dinilai semakin penting seiring meningkatnya kontribusi sektor non-tambang terhadap perekonomian daerah. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi tanpa batu bara mencapai sekitar 11 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang masih memasukkan sektor batu bara sebesar 1,22 persen.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan data yang akurat, pemerintah berharap visi “Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing” dapat diwujudkan melalui produk unggulan berbasis ekspor.(adv)













