Samarinda – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Baharuddin Demmu, menyoroti kondisi akses penyeberangan warga di Desa Santan Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, yang dinilainya memprihatinkan. Hingga kini, sejumlah warga termasuk pelajar masih harus menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung sederhana berbasis katrol untuk mencapai seberang.
Menurut Demmu, fasilitas darurat tersebut telah digunakan masyarakat selama bertahun-tahun karena tidak adanya jembatan permanen. Ia menilai kondisi itu sangat berisiko, terlebih penyeberangan tersebut juga digunakan anak-anak sekolah setiap hari.
Kereta gantung yang berada di kawasan Equator, Santan Ulu, menjadi satu-satunya jalur bagi warga untuk menyeberangi sungai menuju hamparan lahan perkebunan yang mereka kelola. Area tersebut selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk bercocok tanam berbagai komoditas hortikultura.
“Persoalan ini sudah lama disampaikan masyarakat. Di seberang sana ada hamparan lahan yang digunakan warga untuk berkebun hortikultura, tetapi aksesnya hanya melalui jembatan gantung dengan sistem katrol,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jembatan gantung sederhana tersebut tidak memiliki konstruksi yang memadai dan hanya mengandalkan sistem rol atau katrol untuk menyeberang. Kondisi itu membuat aktivitas penyeberangan menjadi sangat berbahaya bagi warga.
Demmu menegaskan, risiko keselamatan semakin besar karena sungai di bawah penyeberangan memiliki arus yang cukup deras. Selain itu, kawasan tersebut juga dikenal sebagai habitat buaya yang sewaktu-waktu dapat muncul.
“Kalau sampai ada yang terjatuh, risikonya sangat besar. Arus sungainya cukup kuat dan di sana juga ada ancaman buaya. Ini jelas membahayakan, apalagi yang melintas setiap hari adalah anak-anak sekolah,” tegasnya.
Politisi PAN tersebut menambahkan pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sebenarnya telah mengetahui kondisi penyeberangan tersebut. Karena itu, ia meminta agar persoalan ini segera ditindaklanjuti dengan pembangunan jembatan yang lebih aman dan layak bagi masyarakat.
Menurutnya, pembangunan akses penyeberangan permanen menjadi kebutuhan mendesak agar aktivitas warga, khususnya pelajar dan petani, dapat berlangsung dengan aman.
“Pemerintah kabupaten sebenarnya sudah mengetahui kondisi ini. Kita hanya meminta agar segera ditindaklanjuti, karena kondisi sungai di bawahnya sangat berbahaya,” pungkasnya.













