Samarinda – Pemanfaatan lahan pekarangan sebagai pusat aktivitas ekonomi keluarga dinilai semakin relevan dalam mendorong kemandirian desa. Salah satu contoh nyata datang dari program pengembangan peternakan ayam skala rumah tangga yang terintegrasi dengan konsep pangan berkelanjutan.
Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur, Firnadi Ikhsan, menyebut pendekatan ini sebagai model ekonomi mikro yang layak dikembangkan di berbagai wilayah.
Menurut Firnadi, program peternakan berbasis rumah tangga bukan sekadar menyediakan sumber protein bagi keluarga, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi warga untuk membangun usaha kecil yang produktif.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, inisiatif seperti ini dinilai mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus, yaitu ketahanan pangan dan tambahan penghasilan.
“Bukan hanya tentang bantuan ayam atau kandang, tapi bagaimana kita menumbuhkan kemampuan warga agar bisa mandiri. Program ini membuktikan bahwa ekonomi desa bisa tumbuh dari dapur dan pekarangan,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).
Ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan program tidak bisa dilepaskan dari pola pendampingan yang tepat. Alih-alih hanya memberi bantuan fisik, pendekatan pelatihan dan transfer pengetahuan teknis kepada masyarakat menjadi faktor pembeda.
Firnadi menilai, selama ini banyak program bantuan pemerintah yang gagal karena minimnya dukungan pasca-distribusi. Sebaliknya, program peternakan lestari yang dikawal secara aktif di lapangan telah menunjukkan hasil nyata baik dari sisi konsumsi keluarga maupun pemasukan tambahan yang berkelanjutan.
“Kami tidak ingin program sekadar seremonial. Yang penting adalah bagaimana ia terus hidup dan berkembang di tangan masyarakat sendiri,” tegas legislator asal Kutai Kartanegara itu.
Ia juga menekankan bahwa dampak dari program semacam ini bersifat multifungsi. Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat melalui telur dan daging ayam, aktivitas peternakan kecil ini juga menciptakan mata rantai ekonomi baru dari pemasok pakan, pengrajin kandang, hingga pasar lokal yang menyerap hasilnya.
Bagi Firnadi, keberhasilan di satu desa harus menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya. Ia mendorong agar pola serupa direplikasi secara luas dengan tetap mempertimbangkan karakteristik lokal masing-masing daerah.
Sebab, semangat kemandirian desa tidak bisa dibangun dari atas, tetapi harus dimulai dari akar, yakni keluarga sebagai unit ekonomi paling dasar.
“Kalau satu rumah bisa produktif dengan pekarangan kecil, bayangkan potensi ekonomi jika satu desa mengelola hal yang sama secara kolektif. Ini bukan sekadar soal ternak, tapi tentang membangun kekuatan ekonomi berbasis komunitas,” tutup Firnadi. (Adv DPRD Kaltim)
Penulis NA













