
SANGATTA – Pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) di tingkat kabupaten ternyata masih menghadapi tantangan kesenjangan digital yang signifikan. Sementara platform digital seperti streaming dan konten kreator YouTube berkembang pesat di tingkat nasional, hal yang sama belum sepenuhnya dapat diadopsi di daerah. Faktor kesiapan masyarakat dan minimnya permintaan pasar lokal menjadi kendala utama.
Yusri Yusuf, Anggota DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim), mengakui adanya kesenjangan ini. “Pengembangan ekonomi kreatif Cuman untuk mengambil seperti streaming youtuber itu belum sampai kesana. Karena ditempat kita belum populer, bagi kita tapi Kalau nasional sudah. Karena dikabupaten belum ada yang meminta seperti itu,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan strategi pengembangan ekraf tidak bisa disamaratakan antara daerah dan pusat. Tren nasional belum tentu dapat langsung diimplementasikan di tingkat kabupaten. Diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual dengan mempertimbangkan kondisi sosial budaya dan kesiapan infrastruktur digital masing-masing daerah.
Kondisi ini justru membuka peluang untuk mengembangkan potensi ekraf yang lebih sesuai dengan karakteristik lokal. Alih-alih mengejar tren digital yang belum populer, fokus dapat dialihkan pada sektor yang sudah ada dan diminati, seperti kerajinan tangan, kuliner khas, atau wisata budaya.
Pemerintah daerah dituntut lebih jeli dalam membaca peluang dan merancang program tepat sasaran. Daripada memaksakan platform yang belum familiar, lebih baik memperkuat basis ekraf tradisional sambil secara bertahap memperkenalkan teknologi digital sebagai alat bantu.
Dengan pendekatan bertahap dan sesuai kondisi lokal, ekonomi kreatif daerah diharapkan dapat tumbuh secara organik. Yang terpenting adalah menciptakan ekosistem yang mendukung terlebih dahulu, sebelum beralih ke tren digital yang mungkin masih terlalu dini untuk diadopsi secara massal. (ADV)













