
SANGATTA – Upaya pengembangan ekonomi kreatif di daerah masih bertumpu pada sektor-sektor konvensional yang telah mapan, belum banyak merambah bidang digital yang tengah tren di tingkat nasional. Fokus pengembangan lebih banyak diarahkan pada pemberdayaan wirausaha lokal di bidang kuliner, industri kecil, dan kerajinan tangan yang menjadi potensi unggulan masyarakat setempat.
Yusri Yusuf, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menjelaskan kondisi riil di lapangan. “Kalau ekonomi kreatif kita masih konvensional pengembangan wirausaha untuk mereka berdayalah baik itu makanan industri kecil-kecil dan kreatifitas mereka begitu,” ujarnya .
Pendekatan konvensional ini memiliki dasar yang kuat, mengingat sebagian besar pelaku ekonomi kreatif di daerah bergerak di sektor riil yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan sehari-hari. Industri makanan, minuman, dan kerajinan tangan khas daerah menjadi tulang punggung ekonomi kreatif lokal yang telah terbukti daya tahannya.
Tantangan ke depan adalah meningkatkan nilai tambah produk-produk konvensional tanpa menghilangkan karakteristik lokal yang menjadi daya tarik utamanya. Inovasi dalam kemasan, strategi pemasaran, dan perluasan jaringan distribusi menjadi hal krusial yang perlu mendapat perhatian serius.
Pemerintah daerah bersama stakeholder terkait terus berupaya mendorong peningkatan kualitas dan daya saing produk ekonomi kreatif lokal. Berbagai pelatihan dan pendampingan diberikan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas mereka, meski masih dalam koridor pengembangan yang konvensional.
Ke depan, diharapkan terjadi integrasi antara kekuatan ekonomi kreatif konvensional dengan peluang ekonomi digital. Dengan demikian, produk lokal yang selama ini hanya dinikmati pasar terbatas dapat menjangkau konsumen lebih luas tanpa kehilangan identitas dan kekhasannya. (ADV)













