
SANGATTA – Amplang, kuliner khas Kalimantan, terus menunjukkan ketahanannya menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Sejumlah kelompok produsen berhasil mempertahankan usahanya, meski beberapa lainnya terpaksa berhenti beroperasi. Kondisi ini menggambarkan dinamika usaha mikro di sektor pangan tradisional.
Yusri Yusuf, Anggota DPRD Kutim, memaparkan kondisi terkini. “Amplang itu sudah pernah ada dan masih ada dan ada beberapa kelompok yang sudah mati suri, karena amplang itu kan sempat berkembang sebelum covid, setelah covid mereka tidak berproduksi lagi karena mungkin kehabisan modal atau lemahnya ekonomi ya akhirnya mereka stagnan,” ujarnya.
Fenomena ini merefleksikan kerentanan usaha mikro terhadap guncangan ekonomi. Sebelum pandemi, usaha amplang menunjukkan perkembangan menjanjikan dengan banyaknya kelompok produksi yang bermunculan. Namun, dampak pandemi berkepanjangan mengakibatkan banyak pelaku usaha kehilangan momentum dan kesulitan bangkit kembali.
Bagi kelompok yang bertahan, adaptasi menjadi kunci utama. Beberapa di antaranya mulai memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pemasaran. Strategi ini tidak hanya membantu mempertahankan usaha di masa sulit, tetapi juga membuka peluang menjangkau konsumen di luar wilayah tradisional.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait terus berupaya memberikan pendampingan kepada pelaku usaha amplang yang masih bertahan. Berbagai program pelatihan dan bantuan permodalan digulirkan untuk membantu mereka bangkit dan mengembangkan usaha. Tantangan terbesar tetap pada bagaimana membangun ketahanan usaha yang berkelanjutan.
Kedepan, diperlukan strategi komprehensif untuk mengembalikan kejayaan amplang sebagai produk unggulan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pihak terkait lainnya sangat penting menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha kuliner tradisional ini. Dengan demikian, amplang tidak hanya bertahan, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang mampu bersaing di pasar lebih luas.
Upaya pemulihan difokuskan pada penguatan modal, inovasi produk, dan perluasan jaringan pemasaran baik secara konvensional maupun digital. Hal ini diharapkan dapat mengembalikan momentum pertumbuhan usaha amplang pascapandemi. (ADV)













