SANGATTA – Kesadaran lingkungan di Kutai Timur semakin menguat, dipelopori oleh anak-anak sekolah yang terus menggelorakan gerakan anti sampah plastik. Aktivitas yang dilakukan bervariasi, mulai dari membawa botol minum pribadi, menggunakan tas belanja ramah lingkungan, hingga membuat karya kreatif berupa poster dan vlog untuk mengedukasi masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Dewi Dohi, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kutim, menyatakan gerakan yang semula berupa lomba kini berkembang menjadi budaya sekolah. “Anak-anak kini menjadikan kampanye ini bagian dari keseharian mereka, bukan sekadar acara tahunan,” jelas Dewi.
Peran orang tua dan guru juga semakin menonjol. Beberapa sekolah membangun bank sampah mini dan melatih siswa untuk memilah sampah organik dan anorganik. Elia Sofia, salah satu orang tua murid, merasa bangga melihat anaknya aktif menegur penggunaan plastik di rumah. “Ini menunjukkan dampak nyata dari pendidikan lingkungan sejak dini,” ujar Elia.
Gerakan ini sejalan dengan kampanye global “Beat Plastic Pollution”, yang mendorong pengurangan pencemaran plastik. Berdasarkan data KLHK, Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahun, dengan 17 persen merupakan plastik. Kutim tidak luput dari ancaman tersebut, sehingga pembiasaan sejak anak-anak menjadi langkah strategis.
DLH Kutim menargetkan implementasi Sekolah Bebas Plastik mulai tahun depan secara bertahap. Dewi menekankan, budaya ramah lingkungan harus menular ke rumah, pasar, kantor, hingga ruang publik. Dengan dukungan generasi muda, Pemkab berharap gerakan sosial ini akan berkembang lebih luas, melibatkan keluarga, komunitas, hingga sektor usaha di Kutim. Perjuangan melawan sampah plastik kini bukan lagi wacana tahunan. Momentum ini menegaskan bahwa anak-anak menjadi agen perubahan yang mampu menumbuhkan budaya peduli lingkungan. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













