SANGATTA – Dari Sangatta Selatan, semangat perubahan pendidikan terus berkobar. SMA Negeri 1 Sangatta Selatan (SMAN Satset) kini dikenal sebagai sekolah yang aktif mendorong para gurunya menjadi penggerak inovasi. Melalui kerja sama, riset, dan pembelajaran mendalam, sekolah ini berusaha melahirkan generasi pendidik yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Langkah itu diwujudkan lewat kegiatan In House Training (IHT) bertema “Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Membangun Komunitas Baru Pembelajar melalui Kolaborasi Teaching Research Group (TRG)”. Sekitar 50 guru dan tenaga kependidikan mengikuti pelatihan ini dengan semangat tinggi.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan dua materi utama. Tri Widayati dari Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Kaltim membawakan topik growth mindset dan pembelajaran mendalam, sementara Rubito, Kepala SMAN Satset, memimpin sesi kolaborasi antarguru melalui TRG.
Rubito menjelaskan, IHT menjadi bagian dari upaya membangun pola pikir baru di kalangan guru. Fokusnya ada pada tiga hal, yaitu membentuk growth mindset, menciptakan pembelajaran yang bermakna, dan memastikan hasil belajar memberi dampak bagi masyarakat. Ia juga memperkenalkan filosofi “Satset” yang berarti gesit, adaptif, dan unggul sebagai identitas sekolah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Dewi, menilai kegiatan ini menumbuhkan budaya belajar kolektif di lingkungan guru. Melalui TRG, para pendidik bisa meneliti dan memperbaiki metode mengajar secara bersama-sama.
Program ini mendapat dukungan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Wakil Bupati, Mahyunadi, menyebut langkah SMAN Satset sebagai contoh nyata bagaimana guru bisa jadi ujung tombak perubahan. “Kutim bukan cuma dikenal karena tambangnya, tapi juga karena gagasan pendidikannya,” ujarnya.
Dengan semangat kolaborasi, SMAN Satset terus meneguhkan diri sebagai pionir pendidikan progresif di Kutai Timur. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













