KAUBUN – Suasana penuh haru dan kebanggaan menyelimuti Gedung Serba Guna Desa Bumi Rapak saat ribuan warga Banjar dari berbagai daerah berkumpul dalam perayaan Tradisi Laung Kuning. Momentum ini menjadi titik temu antara nostalgia, identitas, dan semangat kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat Banjar selama turun-menurun.
Tradisi yang dikelola oleh organisasi budaya Laung Kuning Banjar itu menghadirkan warna kuning yang melambangkan kemuliaan, keberanian, dan keteguhan. Di bawah tema “Haram Manyarah Wala Sampai Kaputing”, acara ini menyoroti perlunya kekuatan pantang menyerah sampai titik akhir. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa budaya hanya dapat bertahan bila terus dihidupi dan dicintai.
Pada hari itu di Kaubun, tradisi kembali menjadi lampu yang menerangi jalan kebersamaan. Dalam setiap doa terkirim pesan bahwa masyarakat Banjar tidak akan menyerah dan akan terus merawat persaudaraan yang telah diwariskan.
Sebelum memasuki gedung, tamu kehormatan disambut dengan adat Banjar. Wakil Bupati Kutai Timur, H. Mahyunadi, hadir mewakili Bupati dan mengikuti setiap prosesi dengan mengenakan ikat kepala Laung Kuning sebagai simbol kehormatan.
Di tengah rangkaian acara, Mahyunadi menerima sebilah parang Lais, sebuah simbol penghormatan sekaligus kepercayaan dari tokoh adat kepada pemimpin. Momen ini disusul ritual Tapung Tawar yang dipimpin Abah Guru Muhammad Rusli, sebuah prosesi penyucian dan doa keselamatan yang menjadi inti perayaan Laung Kuning.
Ketua Umum Laung Kuning Banjar, Abdul Somad, menyampaikan rasa haru melihat antusiasme warga yang datang dari Kutim, Samarinda, Balikpapan, hingga Kalimantan Selatan. Ia menjelaskan bahwa tradisi ini bukan hanya tentang menjaga masa lalu, tetapi juga memastikan agar generasi muda memahami akar budayanya.
Di tengah meriahnya suasana, para pemuda yang turut hadir menjadi saksi penting bahwa budaya tidak harus menjadi beban, tetapi dapat menjadi sumber nilai dan keteguhan menghadapi zaman. Organisasi Laung Kuning Banjar pun berkomitmen menjadi ruang inklusif yang menyatukan warga dari berbagai wilayah. (ADV/ProkopimKutim/SMN)













