SANGATTA – Antusiasme tampak terlihat dalam pelepasan 58 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) yang akan menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 45 hari. Momentum ini adalah titik awal perjalanan mahasiswa dalam menerapkan ilmu pertanian berkelanjutan sekaligus berbaur dengan kehidupan masyarakat di desa.
Mahasiswa STIPER akan ditempatkan di dua kecamatan yaitu Karangan dan Kaliorang. Dua wilayah ini merupakan area yang memiliki potensi pertanian besar namun juga menghadapi tantangan nyata terkait lingkungan, kelembagaan desa, serta pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menjadi penghubung sekaligus memberi warna baru dalam penguatan sektor pertanian daerah.
Peserta telah mengikuti pembekalan intensif selama tiga hari di kampus, meliputi penyusunan program kerja, pendekatan partisipatif, hingga etika hidup bermasyarakat. Selama 29 Juli hingga 10 September 2025, mereka akan terlibat dalam pelatihan pertanian berkelanjutan, edukasi lingkungan, pemberdayaan UMKM, hingga penguatan kelembagaan desa.
Sebelum proses peresmian dimulai, Asisten Pemkesra Setkab Kutim, Poniso Suryo Renggono yang mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan pesan penting tentang integritas dalam pengabdian. Ia menekankan bahwa karakter, sikap, dan tutur kata mahasiswa akan menjadi cerminan kualitas diri sekaligus bentuk kesiapan mereka menatap masa depan. Penyematan jaket almamater kemudian menandai dilepasnya para peserta secara resmi.
Ketua STIPER Kutim Ismail Fahmi Almadi menegaskan bahwa KKN bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik. Mahasiswa diharapkan dapat menumbuhkan kedekatan dengan warga, memetakan permasalahan lokal, dan memberikan kontribusi nyata melalui program yang relevan dan berkelanjutan.
Pemkab Kutim menyatakan dukungan penuh terhadap program ini karena kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah dinilai mampu menjawab kebutuhan pembangunan desa.
“Selamat mengabdi. Jadikan ilmu dan langkah kalian berarti bagi masyarakat,” pesan Poniso.
Melalui pengabdian ini, para mahasiswa tidak hanya menorehkan catatan akademik, tetapi juga menghadirkan perubahan kecil yang berdampak besar bagi desa.(ADV/ProkopimKutim/SMN)













