Samarinda – Perwakilan manajemen RSUD Abdoel Wahab Sjahranie memastikan bahwa penanganan terhadap pasien yang menjadi sorotan publik telah dilakukan sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP). Hal tersebut disampaikan usai kunjungan lapangan Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur pada Senin, 6 April 2026, di RSUD AWS Samarinda.
Wakil Direktur Penunjang RSUD AWS, dr. Mazniati, menjelaskan bahwa hasil audit internal menunjukkan tidak adanya pelanggaran prosedur dalam penanganan pasien. Ia juga menyoroti adanya kesenjangan komunikasi antara pihak tenaga kesehatan dan keluarga pasien.
“Sama saja tadi sudah dijelaskan bahwa sudah dilakukan sesuai prosedur, edukasi juga sudah, tapi ternyata ada gap ya antara keluarga pasien. Di semuanya sudah sesuai, jadi informasi-informasi yang tidak sesuai di medsos sudah diluruskan dan terbantahkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihak rumah sakit telah melakukan klarifikasi terhadap berbagai informasi yang beredar di media sosial dan memastikan bahwa seluruh tindakan medis telah sesuai standar.
Menanggapi pertanyaan terkait independensi audit internal, dr. Mazniati menyebut bahwa proses audit dilakukan oleh komite yang berada langsung di bawah Direktur dan berisi tenaga ahli yang kompeten.
“Itu komite itu di bawah Direktur langsung, itu ada independensinya. Dewan Pengawas juga menyampaikan bahwa orang-orang di komite itu adalah orang-orang yang memang bisa diakui keahliannya,” jelasnya.
Terkait isu yang sempat beredar mengenai keterlibatan anak magang dalam tindakan medis, dr. Mazniati membantah tegas kabar tersebut. Ia memastikan bahwa tidak ada mahasiswa magang yang terlibat dalam penanganan pasien, bahkan sejak tiga bulan sebelum pasien dirawat.
“Sudah disampaikan bahwa sejak kejadian, eh, tiga bulan sebelum pasien dirawat tidak ada lagi anak magang sampai hari ini. Jadi memang tidak ada,” tegasnya.
Lebih lanjut, pihak rumah sakit merencanakan tindakan operasi lanjutan berupa *skin graft* atau pencangkokan kulit untuk mempercepat proses penyembuhan pasien. Tindakan tersebut akan ditangani oleh dokter spesialis terkait.
“Untuk rekonstruksi, perbaikan penutupan jaringannya itu tadi. Jadi kulit yang sehat ditempelkan ke situ, namanya skin graft,” kata dr. Mazniati.
Ia juga mengakui bahwa setiap tindakan medis memiliki risiko, namun seluruh prosedur telah dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan pasien secara maksimal.
“Semua tindakan pasti ada risiko, itu namanya risiko medis. Tapi semua sudah diantisipasi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Mazniati juga mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan informasi medis yang diberikan oleh tenaga kesehatan, termasuk jadwal kontrol pasca perawatan.
“Ketika pulang dari rumah sakit itu surat kontrol itu dibaca tanggalnya, karena sebetulnya itu sudah disiapkan apa yang akan dilakukan,” imbaunya.
Terkait evaluasi terhadap kasus-kasus sebelumnya, termasuk insiden pelayanan pasien anak, pihak rumah sakit menyatakan bahwa setiap kejadian selalu menjadi bahan evaluasi internal untuk perbaikan layanan.
“Setiap ada tindakan pasti kita evaluasi. Semua permasalahan yang ada di sini kita selalu audit, kita selalu update SOP-nya,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan di RSUD AWS merupakan tenaga profesional yang memiliki izin praktik dan kompetensi yang sesuai.
“Profesional, ada SIP, ada STR, pendidikannya juga terakreditasi,” katanya.
Di akhir pernyataannya, dr. Mazniati berharap masyarakat dapat memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan dalam menjalankan tugasnya memberikan pelayanan terbaik.
“Kami mohon doanya supaya bisa memberikan pelayanan yang terbaik. Karena tidak ada tenaga kesehatan yang ingin mencelakakan pasien,” pungkasnya. (Iqbal Al-Fiqri)













