Samarinda — Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, menggelar kegiatan Penguatan Demokrasi Daerah (PDD) ke-4 bertema “Tata Ruang Berkelanjutan untuk Masa Depan Pembangunan Daerah” di Jalan Ruhui Rahayu, Kelurahan Gunung Kelua, Kota Samarinda, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua DPC PDI Perjuangan Samarinda, Iswandi, dan Ketua PAC PDI Perjuangan Sungai Pinang, Andi Misran, sebagai narasumber. Diskusi dipandu moderator, Jifran.
Dalam sambutannya, Ananda Emira Moeis menegaskan bahwa tata ruang berkelanjutan menjadi salah satu fondasi penting dalam menentukan arah pembangunan daerah ke depan.
“Pembangunan daerah tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata. Aspek lingkungan, sosial, dan keberlanjutan harus menjadi perhatian utama agar pembangunan benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tegasnya.
Menurut Ananda, pembangunan yang tidak dibarengi dengan perencanaan tata ruang yang matang berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan maupun sosial di masa mendatang.
Sementara itu, Iswandi menilai tata ruang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan di daerah.
“Tata ruang bukan hanya berbicara soal pembangunan fisik, tetapi bagaimana pemerintah mampu menjaga keseimbangan lingkungan dan menjamin kualitas hidup masyarakat ke depan. Jika tidak direncanakan dengan baik, dampaknya bisa panjang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi pemerintah dalam menjalankan regulasi tata ruang agar tidak terjadi alih fungsi lahan yang berdampak pada meningkatnya persoalan lingkungan, seperti banjir maupun kerusakan kawasan hijau.
Di sisi lain, Andi Misran menekankan bahwa masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap proses perencanaan pembangunan daerah agar kebijakan tata ruang tidak hanya berpihak pada kepentingan investasi semata.
“Masyarakat harus menjadi bagian dari proses perencanaan pembangunan. Tata ruang yang baik adalah yang mampu melindungi ruang hidup warga sekaligus mendukung pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, partisipasi publik menjadi faktor penting dalam menciptakan pembangunan yang lebih inklusif dan tepat sasaran.
Moderator kegiatan, Jifran, turut mengajak peserta diskusi untuk aktif menyampaikan pandangan terkait persoalan tata ruang dan pembangunan di Samarinda.













