SAMARINDA – Komisi IV DPRD Kota Samarinda menyatakan program rehabilitasi sekolah pada tahun anggaran 2027 akan difokuskan pada perbaikan ringan di puluhan sekolah. Keterbatasan ruang fiskal membuat pemerintah daerah belum dapat mengalokasikan rehabilitasi berat secara luas, kecuali bagi sekolah yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengatakan rehabilitasi berat saat ini hanya diprioritaskan untuk sekolah yang terdampak bencana. Sementara sekolah lainnya lebih diarahkan pada pembenahan fasilitas yang mengalami kerusakan ringan.
“Untuk rehab sekolah saat ini hanya yang ringan-ringan. Kalau rehab berat, hanya untuk sekolah yang terkena bencana,” ujar Novan, Senin (6/7/2026).
Ia mencontohkan, pada tahun 2026 terdapat dua sekolah yang menjadi prioritas rehabilitasi berat akibat terdampak bencana, yakni SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 5 Samarinda. Menurutnya, proses perbaikan kedua sekolah tersebut kini telah memasuki tahap penyelesaian.
“Yang tahun ini terjadi karena bencana itu di SMP 2 dan SMP 5. Sekarang sudah dalam tahap penyelesaian, sedangkan sisanya hanya perbaikan ringan,” katanya.
Novan juga menyinggung kondisi SMP Negeri 24 Samarinda yang hingga kini belum masuk dalam program rehabilitasi berat. Menurutnya, sekolah tersebut sementara hanya akan mendapatkan pembenahan sesuai kemampuan anggaran daerah.
“Contohnya SMP 24 Samarinda, untuk saat ini belum rehab berat. Yang dilakukan baru pembenahan karena kita masih menyesuaikan dengan keterbatasan ruang fiskal,” jelasnya.
Menurut Novan, kondisi keuangan daerah mengharuskan pemerintah menetapkan skala prioritas dalam pengalokasian anggaran pembangunan, termasuk di sektor pendidikan. Anggaran rehabilitasi ringan sekolah yang disiapkan nilainya berkisar puluhan miliar rupiah dan belum mencapai ratusan miliar.
“Kondisi fiskal kota harus benar-benar disesuaikan. Anggaran untuk rehab ringan itu sekitar puluhan miliar rupiah, belum sampai ratusan miliar,” ujarnya.
Dalam usulan program tahun 2027, Komisi IV mencatat sebanyak 35 sekolah dasar (SD) diproyeksikan memperoleh rehabilitasi ringan di berbagai wilayah Kota Samarinda. Sementara itu, untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP), terdapat 15 sekolah yang diusulkan mendapatkan program serupa.
Novan menjelaskan mayoritas usulan rehabilitasi berasal dari sekolah dasar karena jumlah SD di Samarinda lebih banyak dibandingkan SMP. Bentuk perbaikan yang diusulkan pun didominasi pembenahan plafon, ruang belajar, serta sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar.
“Usulan rehabilitasi ringan lebih banyak berasal dari SD karena jumlah sekolahnya memang lebih banyak. Rata-rata yang perlu diperbaiki adalah plafon, ruang kelas, dan fasilitas belajar lainnya. Mudah-mudahan seluruh usulan pada tahun 2027 bisa terealisasi,” pungkasnya. (Adv)













