SANDARAN — Pesta Adat Erau “Embuang Panas Pelas” 2026 di Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), resmi berakhir. Penutupan berlangsung meriah melalui panggung hiburan setelah sebelumnya masyarakat mengikuti berbagai rangkaian adat, perlombaan, hingga kegiatan sosial dan ekonomi.
Penutupan pesta adat dilakukan Pelaksana Tugas (Plt) Camat Sandaran Mulyadi. Dalam pesannya, Mulyadi menekankan bahwa berakhirnya kegiatan tidak berarti berakhir pula upaya masyarakat menjaga adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, adat memiliki posisi penting bagi masyarakat Desa Marukangan karena menjadi bagian dari identitas sekaligus kehidupan sosial warga.
“Penting adat untuk desa agar selalu dipertahankan, khususnya adat yang hidup dan berkembang di Desa Marukangan,” pesan Mulyadi baru-baru ini.
Setelah prosesi penutupan, suasana berlanjut dengan panggung hiburan yang menghadirkan sejumlah artis, seperti Angle Sahara, Revo Ramon, Puput KDI, serta penampilan DJ. Hiburan tersebut menjadi bagian akhir dari rangkaian pesta adat yang telah berlangsung selama beberapa hari.
Sehari sebelumnya, masyarakat juga mengikuti lomba sumpit dan zumba. Lomba sumpit menghadirkan kembali permainan tradisional yang dekat dengan kehidupan masyarakat, sedangkan zumba memberikan warna modern dalam rangkaian kegiatan.
Kepala Desa Marukangan Endi Haryanto berharap pelaksanaan kegiatan serupa dapat berlangsung lebih baik pada masa mendatang. Menurutnya, keberlanjutan pesta adat penting agar tradisi tetap memiliki ruang untuk dikenali dan diwariskan.
Sebelumnya, Erau “Embuang Panas Pelas” 2026 dibuka Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman pada Kamis (6/8/2026) di Balai Adat Desa Marukangan. Prosesi adat dipimpin para tetua dan pemangku adat sesuai pakem yang diwariskan turun-temurun.
Pembukaan tersebut menjadi bagian dari kunjungan kerja Pemkab Kutim ke Kecamatan Sandaran. Rombongan berangkat dari Sangatta pada Rabu (5/8/2026) dan bermalam di Mess PT Bumi Mas Agro.
Selain membuka pesta adat, Ardiansyah juga membuka bazar UMKM, pertunjukan musik, perlombaan menyambut HUT Kemerdekaan RI, dan berbagai lomba tradisional. Ratusan warga hadir dan membaur dalam kegiatan.
Bazar UMKM turut memberikan dampak ekonomi dengan membuka ruang bagi pelaku usaha lokal memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa Erau bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Pesta adat memang telah berakhir, namun pesan untuk mempertahankan adat tetap menjadi bagian penting bagi kehidupan Desa Marukangan.(ADV/prokopim/Kutim)













