SANGATTA – Pengembangan Gula Aren Genjah Desa Kandolo, Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), diarahkan tidak hanya pada perluasan pasar, tetapi juga penguatan produksi dari sektor hulu. Pemerintah daerah (Pemda) menilai ketersediaan bibit dan tenaga kerja menjadi faktor penting sebelum hilirisasi dikembangkan lebih jauh.
Hal tersebut dibahas dalam audiensi pengajuan Hak Indikasi Geografis (IG) Gula Aren Genjah Kandolo di Ruang Kerja Bupati Kutim, Rabu (12/8/2026).
Kabid Prasarana dan Sarana Dinas Perkebunan Kutim Alamsyah Saragih mengatakan ketersediaan bibit harus menjadi perhatian karena pengembangan produk membutuhkan pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
“Walau bagaimanapun rencana kita hilirisasi, tapi kalau tidak ada bibit yang akan kita jadikan untuk bahan tanamnya, maka sia-sialah hilirisasi itu,” jelas Alamsyah.
Ia menyebut pada 2022 terdapat 154 pohon induk terpilih yang menjadi sumber bibit. Namun, jumlah tersebut kini telah berkurang. Dinas Perkebunan berencana berkoordinasi dengan pemulia tanaman dari Balit Palma Manado dan kementerian terkait untuk mendukung penambahan pohon induk.
Keterbatasan tenaga kerja juga menjadi tantangan. Berdasarkan pemaparan dalam audiensi, seorang penyadap dapat menghasilkan sekitar 25 kilogram gula dalam sehari, bergantung pada kondisi produksi.
Di sisi lain, peluang pasar cukup besar. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyebut pasar Gula Aren Genjah Kandolo terbuka mulai dari lokal hingga internasional.
“Pasaran banyak, baik lokal, regional, maupun pasar global,” kata Ardiansyah.
Permintaan pasar luar daerah bahkan disebut pernah mencapai 20 ton dari pelaku usaha yang terhubung dengan pasar Amerika Serikat. Sementara pasar lokal dalam beberapa bulan terakhir juga dinilai telah tinggi.
Pengembangan produk telah dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari gula cetak, gula semut, gula cube hingga gula cair atau “juruh”.
Selain penguatan hulu dan hilir, Pemkab Kutim juga mendorong pengajuan IG untuk memberikan perlindungan terhadap identitas Gula Aren Genjah Kandolo. Dengan penguatan produksi, kelembagaan dan mutu, komoditas tersebut diharapkan mampu memenuhi permintaan pasar yang semakin luas.(ADV/prokopim/Kutim)













